Darah memegang peranan penting dalam pelayanan kesehatan. Satu kantong darah yang didonorkan dapat menyelamatkan tiga nyawa yang membutuhkan, sehingga ketersediaan, keamanan dan kemudahan akses terhadap darah dan produk darah lainnya harus dapat dijamin.

Pelayanan tranfusi darah merupakan upaya pelayanan kesehatan yang memanfaatkan darah manusia sebagai bahan dasar untuk tujuan kemanusiaan tanpa adanya tujuan komersial. Upaya kesehatan dalam penyembuhan penyakit dan pemulihan sangat membutuhkan ketersediaan darah atau komponen darah yang cukup, aman, mudah diakses dan terjangkau oleh masyarakat.

Oleh karena itu, Standar Pelayanan Tranfusi Darah penting dilakukan untuk menjamin keamanan pelayanan tersebut kepada masyarakat. Sehingga pelayanan tranfusi darah harus sesuai dengan standar pelayanan sebagaimana telah diatur pada Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) nomor 91 tahun 2015 Tentang Standar Pelayanan Tranfusi Darah.

Mengutip dari inews.id, Plh Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, drg. Farichah Hanum, M.Kes, mengatakan bahwa standar pelayanan tranfusi darah kini membuat masyarakat menjadi aman, begitupun bagi staf UTD yang juga harus memiliki kemampuan baik dalam hal pelayanan.

“Jadi semua kan lebih tertata karena standar yang jelas. Kemudian untuk institusi itu sendiri (UTD), ini manfaatnya sangat luas,” tuturnya.

Drg Farichah Hanum juga mengatakan bahwa meski standar pelayanan tranfusi darah sudah ada, namun perlu juga memastikan apakah UTD itu betul-betul melaksanakan standar pelayanan tersebut atau tidak, karena belum ada lembaga yang mengevaluasinya. 

Sehingga menurut drg Hanum, diharapkan adanya lembaga yang memastikan bahwa UTD tersebut dalam hal ini patuh terhadap standar yang telah ditetapkan (PMK nomor 91 tahun 2015). Ada juga lembaga independen yang harus menilai dari semua aspek.

Berita yang disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementrian Kesehatan RI memberitakan bahwa saat ini telah tercatat 200 UTD milik pemerintah dan 220 UTD milik TNI. Akan tetapi, drg Farichah Hanum mengatakan ada beberapa UTD yang masih kesulitan dalam menyediakan stok darah karena terkendala akses, khususnya di daerah-daerah terpencil seperti kawasan Timur.

“Yang susah itu di daerah Timur karena aksesnya yang sulit, daerah Timur seperti Maluku dan Papua yang ada hanya di Kota saja, sedangkan di daerah susah. Kendalanya ada pada transportasi, informasi dan buat pendonornya juga masih sulit,” ungkapnya. (Gth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here