Sukses dalam pengelolaan layanan rumah sakit belum tentu sukses mengelola gelontoran dana dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, Agar dana tersebut dapat dikelola dengan sehat dan baik dan Rumah Sakit (RS) tidak memiliki defisit anggaran.

Sejak berkembangnya era JKN banyak perubahan yang terjadi di dalam lingkungan RS, terutama pada sistem pembiayaan. Era sebelum JKN, umumnya dikenal sistem pembiayaan Fee From Service (FFS), beranjaknya era, dengan adanya JKN, sistem pembiayaan menjadi prospective payment INA-CBG (Indonesia Case Base Groups). Dengan begitu, RS harus kembali beradaptasi.

Melansir dari jamkesnews.com, adaptasi dapat dimulai dari perubahan manajemen RS. Dengan mengawali dari manajemen maka hal ini dapat berimbas baik pula dalam pelayanan medis.

Dipaparkan oleh dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., MBA., M.Kes, Sekretaris Eksekutif Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (PKP-MAK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK-UGM), pada era ini RS perlu kesiapan.

Ia menyebutkan tantangan yang harus dihadapi RS adalah adanya gap antara biaya kesehatan dan reimbursement. Bila gap ini makin besar, maka akan ada kendala yang akan terjadi. Upaya yang bisa dilakukan RS agar gap ini tak semakin besar yaitu dengan memaksimalkan customer value dan meminimalkan waste. Beberapa contohnya yakni, perbaikan produktivitas, penghematan ruang, dan meminimalkan waktu tunggu pasien.

Kemudian, kunci untuk mengelola dana JKN ini juga dapat dilakukan dari sisi keuangan. Disampaikan oleh dr. Ediansyah, MARS., M.M, seorang direktur dari RS An-Nisa Tangerang, dalam era JKN respon terhadap perubahan ini dapat dilakukan dengan membangun kapabilitas organisasi serta menyusun strategi yang tepat.

Ia mengungkap salah satu strategi yang sering dilakukannya yaitu, mengukur financial performance dengan laba rugi, menetapkan target pasar RS yang adalah peserta JKN, membangun value proposition sesuai target pasar, mengatasi kompleksitas dengan kolaborasi bersama dokter, menumbuhkan kepercayaan terhadap pemimpin untuk stakeholder RS, melakukan pengendalian biaya di variable dan fix cost, serta pengembangan teknologi yang baik di dalam RS.

Dengan adanya JKN diharapkan manajemen dan profesi serta komponen RS mempunyai persepsi dan komitmen yang sama untuk bekerja sama menghasilkan produk layanan RS yang cost effective hingga meningkatkan kepuasan pasien. Dengan demikian, hal-hal tersebut dapat berimbas pada seluruh aspek di RS secara mikro maupun makro dan RS sukses mengelola dana JKN dengan minim defisit keuangan.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here