Mukisi.com-Donor darah kerap dianggap sebagai aksi kepedulian. Islam pun telah memandang kegiatan donor darah ini merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Namun donor darah dapat dilakukan dengan memperhatikan syariat yang berlaku.

Dalam hal ini, Ustadz Ammi Nur Baits, memberi tanggapan soal hukum donor darah. Ia menyampaikan melalui laman Konsultasi Syariah, bahwa hukum ini ditinjau dari dua sisi. Yakni dari pendonor, dan penerima donor darah.

Melihat dari Dua Sisi

Dari segi penerima donor, terdapat beberapa kriteria agar tidak menyalahi syariat. “Para ulama menggolongkan donor darah sebagaimana “makan” bukan “berobat”. Dengan demikian, pada hakikatnya, orang yang melakukan donor darah dianggap telah memasukkan makanan berupa darah ke dalam tubuhnya. Untuk itu, ulama memberikan batasan, bahwa donor darah diperbolehkan jika dalam kondisi darurat,” papar Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh tersebut.

Kemudian ia menukil Surat Al-Maidah ayat 3, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah ….”

Namun di akhir ayat, Allah menyatakan, “Barang siapa berada dalam kondisi terpaksa karena kelaparan, (lalu) tanpa sengaja (dia) berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ….” (QS. Al-Maidah:3)

Oleh karenanya, penerima donor darah haruslah mereka yang benar-benar membutuhkan dan mendapat indikasi darurat dari petugas medis.

Kemudian di sisi pendonor, lanjutnya, seseorang diperbolehkan melakukan donor darah, selama proses donor tersebut tidak membahayakan dirinya. Dalil dalam masalah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidak boleh menimbulkan bahaya atau membahayakan yang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Ad-Daruquthni; dengan derajat hasan) (Disimpulkan dari fatwa Syekh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).

Dalam situs pribadinya Ahmad Sarwat, LC mengatakan donor darah itu diperbolehkan. Hal ini berdasarkan beberapa fatwa dari beberapa ulama antara lain, Fatwa Syeikh Husamuddin bin Musa ‘Ufanah, Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Fatwa Syaikh Zaid Bin Muhammad Al-Madkholi. Fatwa ini diambil karena donor darah belum ada ketentuannya jika merujuk pada empat mazhab (Imam Abu Hanifah Imam Malik Imam Asy-Syafi’I Imam Ahmad bin Hanbal). Pada masa hidup beliau-beliau belum ada istilah donor darah sehingga tidak ada mazhab yang membahas mengenai hal itu.

Donor Darah Tak Menjadikan Mahram

Dalam situs tersebut juga dijelaskan bahwa donor darah tidak akan menjadikan seseorang mahram dengan orang lain. Jadi seorang resipien boleh dinikahi oleh seorang pendonor demikian juga sebaliknya. Hal ini disebabkan yang menyebabkan mahramnya seseorang itu hanya disebabkan oleh 3 hal yakni nasab, mushaharah (sebab perkawinan) dan radhaah (sebab penyusuan).

Menurutnya, darah jika dibandingkan dengan air susu maka akan berbeda karakter dari keduanya sehingga tidak dapat diqiyaskan. Darah bukanlah unsur yang dimakan akan tetapi yang mengantarkan makanan. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here