Mukis.com-Mendengar kata ICU, orang awam akan berpikir bahwa pasien ICU dalam kondisi kritis. Selain pasien yang kritis, juga ada beberapa kriteria lain untuk pasien agar bisa memanfaatkan fasilitas ICU RS. Berikut ulasannya.

Intensive Care Unit (ICU) atau seringkali bernama ruangan perawatan intensif adalah unit perawat khusus yang dikelola untuk merawat pasien-pasien yang sakit berat, kritis, dan cedera yang dapat mengancam nyawa. Penggunaan ruangan ini juga harus dibarengi dengan fasilitas tenaga kesehatan yang terlatih dengan didukung peralatan khusus.

Pelayanan ini meliputi pemantauan dan terapi intensif. Karenanya, ini diperuntukkan untuk pasien dengan prognosis buruk untuk sembuh.

“Persyaratan masuk dan keluar ICU juga didasarkan pada manfaat terapi ICU dan harapan kesembuhannya. Kepala ICU atau wakilnya memutuskan apakah pasien masuk syarat untuk masuk ICU ataupun keluar. Kepala atau wakil ICU ini harus memutuskan mana pasien yang diprioritaskan untuk masuk ICU,” kata dr. Riviq Ahmad Said, Sp.An, dokter spesialis anestesi Indonesia dalam acara Media Gathering “Emergency… What To Do?”, dikutip dari detik.

Menurutnya ada beberapa pertimbangan pasien bisa mendapat perawatan ruang ICU. Berikut adalah pertimbangannya menurut Dokter Riviq.

1.Pasien sakit berat, pasien tidak stabil yang memerlukan terapi intensif seperti bantuan ventilator, pemberian obat vasoaktif melalui infus secara terus-menerus. Contohnya pasien gagal napas berat, pasca bedah jantung terbuka, shock septik.

2. Pasien yang memerlukan bantuan pemantauan intensif atau non invasive sehingga komplikasi berat dapat dihindari atau dikurangi. Contoh pasien pasca bedah besar dan luas, pasien dengan penyakit jantung, paru, ginjal atau lainnya.

3. Pasien yang memerlukan terapi intensif untuk mengatasi komplikasi-komplikasi akut, sekalipun manfaat ICU ini sedikit. Contoh pasien dengan tumor ganas metastasis dengan komplikasi infeksi, tamponade jantung, sumbatan jalan napas.

Di sisi lain, ia juga menyebutkan ada beberapa pertimbangan bahwa pasien tidak perlu masuk dalam ruang ICU. Berikut pertimbangannya.

1. Pasien mati batang otak (dipastikan secara klinis dan laboratorium), kecuali keberadaannya diperlukan sebagai donor organ.

2. Pasien menolak terapi bantuan hidup.

3. Pasien secara medis tidak ada harapan dapat disembuhkan lagi. Contohnya pasien karsinoma stadium akhir, kerusakan susunan saraf pusat dengan keadaan vegetatif.

Kemudian, ia juga mengatakan, syarat-syarat pasien boleh keluar ruang ICU. Di bawah ini adalah syarat-syaratnya menurut Dokter Riviq.

1. Pasien tidak memerlukan lagi terapi intensif karena keadaan membaik atau terapi telah gagal dan prognosis dalam waktu dekat akan memburuk, serta manfaat terapi intensif sangat kecil. Dalam hal yang kedua perlu persetujuan dokter yang mengirim.

2. Bila pada pemantauan intensif ternyata hasilnya tidak memerlukan tindakan atau terapi intensif lebih lama.

3. Terapi intensif tidak memberi manfaat dan tidak perlu diteruskan lagi pada:
– Pasien usia lanjut dengan gagal 3 organ atau lebih yang tidak memberikan respons terhadap terapi intensif selama 72 jam.
– Pasien mati otak atau koma (bukan karena trauma) yang menimbulkan keadaan vegetatif dan sangat kecil kemungkinan untuk pulih.
– Pasien dengan bermacam-macam diagnosis seperti PPOM (Penyakit Paru Obstruktif Menahun), jantung terminal, karsinoma yang menyebar. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here