Mukisi.com-Masih hangat beberapa hari lalu, keramaian publik yang tercengang dengan papan pengumuman RS Syariah milik RSUD Tangerang. Banyak yang pro, tak sedikit pula yang kontra. Padahal, RS Syariah justru memiliki kualitas lebih baik.

Sertifikasi RS Syariah lahir dari pemikiran para tenaga kesehatan Islam yang dinaungi oleh Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi). Perjalanan panjang telah dilalui Mukisi dalam meluncurkan sertifikasi ini, bahkan dunia pun mengakui sertifikasi ini adalah yang pertama di dunia untuk rumah sakit. Ini dibuktikan dengan diundangnya Mukisi sebagai pembicara di berbagai acang diskusi kesehatan dunia, seperti di Yordania dan Malaysia beberapa waktu lalu.

“This is an amazing work by Mukisi. Please, have the standard in English. We want to learn from you and try to implement whichever we can in our country,” kata perwakilan dari Nigeria, dr. Salisu Ismail, dalam Forum Internasional bertajuk “Federation Ismail Medical Association (FIMA) dan Islamic Hospital Consorsium (IHC) Meeting”.

Pengapresiasian Mukisi ini bukan tanpa sebab. Ini dikarenakan Mukisi sangat detail dalam menjaga nilai-nilai Islam dalam rumah sakit. Pasien non muslim sekalipun dapat berobat disini tanpa adanya perbedaan pelayanan. Bahkan, RS bersedia menyediakan rohaniawan yang sesuai dengan kepercayaannya.

Selain hal itu, rumah sakit juga memiliki beberapa nilai plus lain. Berikut adalah nilai plus yang akan didapatkan pasien ketika berobat di rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah.

Makanan dan Obat Halal

Di rumah sakit syariah, pengujian makanan melalui proses yang panjang. Dari bahan baku, pengolahan, hingga penyajian pada pasien dapat dipastikan halal. Misalnya saja, bahan baku ayam.

“Untuk ayam, rumah sakit selalu mengecek rumah potong, kami harus menjelaskan standar operasional pada mereka. Tak hanya itu, mereka juga harus menandatangani pernyataan bahwa mereka menyembelih sesuai dengan standar operasional dan tidak melanggar ketentuan Islam,” jelas Miftachul Izah, SE., M.Kes, Wakil Sekretaris Mukisi. Setiap makanan yang tersaji dengan label halal pass telah melewati kontrol kualitas yang ketat.

Selain bahan baku makanan, peralatan makan pun juga turut diperhatikan. Pasien tidak diperkenankan meminjam peralatan makan pasien atau rumah sakit. Ini untuk menghindari tercampurnya makanan halal dengan makanan yang dibawa pasien, yang mungkin kurang jelas kehalalannya. Jika benar-benar dibutuhkan, pihak rumah sakit hanya akan memberikan peralatan makan sekali pakai.

Sementara itu, untuk obat. Sebagian besar obat di rumah sakit syariah dapat dipastikan kehalalan kandungannya. Misalkan jika ada obat yang kandungannya tidak jelas kehalalannya, namun hanya ada obat itu satu-satunya untuk mengobati pasien, maka pihak rumah sakit akan melakukan informed consent.

Rumah sakit akan meminta persetujuan pada pasien serta keluarganya. “Dampak yang ada hanyalah efek samping obat, dan dosis obat yang dikonsumsi, dan sama posisinya dengan obat yang lain,” kata dr. Siti Aisyah Ismail, MARS, anggota divisi kerjasama Internasional Mukisi.

Adanya Laundry yang Menyucikan

Dalam membersihkan alat-alat rumah sakit atau linen serta selimut, rumah sakit syariah wajib melakukannya dengan bahan-bahan pembersih yang tersertifikasi halal oleh LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan, dan Kosmetika – Majelis Ulama Indonesia).

“Produk yang diolah adalah produk yang sudah didaftarkan di LPPOM menggunakan nama yang tidak mengarah pada sesuatu yang diharamkan, seperti kandungan babi dan turunannya” papar Emi Yuni Astuti, SKM, Kepala Bagian Laundry RSI Sultan Agung Semarang.

Aturan penggunaan bahan tersertifikasi halal ini tak hanya diberlakukan untuk proses laundry, tetapi juga untuk proses pencucian fasilitas produksi. “Fasilitas produksi yang kami maksud antara lain mesin cuci, mesin pengering, mesin setrika roll ataupun manual, trolleypengangkut linen, ataupun kendaraan lain yang terkait dengan pengangkutan linen (baik linen kotor maupun linen bersih), serta tak tertinggal untuk almari penyimpanan linen dan gudang linen,” jelasnya.

Kemudian harus ada prosedur tertulis aktivitas kritis pada saat seleksi dan penggunaan bahan baru, pembelian, formulasi produk, pemeriksaan bahan datang, produksi, pencucian fasilitas produksi, penyimpanan dan penanganan bahan atau produk, serta transportasi. “RS Syariah memang harus begitu untuk menjamin ketertelusuran produk yang disertifikasi,” jelasnya.

Nilai plus di dalam rumah sakit syariah seperti di atas tak berlaku eksklusif untuk pasien muslim saja. Pasien non muslim juga mendapat fasilitas yang sama. Dengan begitu, pasien tak perlu khawatir. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here