Mukisi.com-Selain kemoterapi, pengobatan kanker dapat dilakukan dengan cara lain. Pengobatan kanker dengan memanfaatkan nuklir. Lalu, seperti apa terapi tersebut? Mari kita simak ulasan di bawah ini.

Sebagian orang akan bergidik ngeri ketika mendengar kata ‘nuklir’. Padahal, jika digunakan dengan benar, nuklir dapat membawa manfaat. Salah satu manfaatnya, nuklir dapat digunakan untuk pengobatan kanker. Sebagai pusat kanker di Indonesia, RS Unhas memberikan layanan terapi baru bagi penderita kanker. Terapi baru yang ditawarkan ini menggunakan teknologi nuklir.

Dikutip dari laman unhas.ac.id, RS Unhas menggunakan teknologi dari Jerman yang bernama Brachy Theraphy. Alat ini memanfaatkan radiasi nuklir, dengan menginjeksi langsung ke dalam jaringan kanker dengan dosis yang disesuaikan besaran kankernya.

“Kekuatannya lebih besar. Sistemnya bersumber dari radiasi yang ditembakkan sel-sel kanker menggunakan radioaktif Iridium dengan teknik tiga dimensi,” jelas dr. Suherman Hadi Saputra, Sp.Onk.Rad, seorang dokter spesialis onkologi radiologi RS Unhas.

Dilanjutkannya, tumor yang ada di dalam tubuh manusia ditembakkan radioaktif Iridium berkekuatan 10 Linac. Hingga sekarang, terapi ini manjur mengobati kanker, terutamanya kanker serviks. Selain kanker serviks, kanker-kanker yang bergolongan sarkoma juga bisa mendapat terapi ini. Alat ini diperuntukkan bagi pasien yang terindikasi membutuhkan dosis tinggi pengobatan kanker.

Di sisi lain, pengobatan kanker dengan nuklir juga dapat dilakukan pada penderita kanker tiroid. Dalam suara.com, metode terapi nuklir atau radio iodine ini salah satu pengobatan bermetode ablasi yang disarankan untuk pasien kanker tiroid.

Terapi ini merupakan tahap lanjutan setelah operasi pembuangan kanker Tujuannya untuk menghancurkan jaringan yang belum terbuang dan berpotensi kembali menjadi kanker.

“Tujuannya untuk menghancurkan sisa jaringan tiroid fungsional. Meningkatkan spesifitas dan mencari sisa atau metastasis serta meningkatkan kepekaan tumor marker tiroglobulin protein yang hanya dihasilkan kelenjar tiroid (pertanda penyebaran),” papar dr. Hapsari Indrawati, Sp.KN, pakar kedokteran nuklir di Indonesia.

Cara kerja terapi ini sangat sederhana. Iodium radioaktif ditugaskan untuk ‘menipu’ sel kanker tiroid. Iodium sendiri merupakan makanan dari sel tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid. Kemudian, ketika iodium ini dimakan oleh tiroid, yang terbentuk bukan hormon melainkan menjadi proses penghancuran sel kanker. Ini dikarenakan kandungan radioaktif dalam iodium.

Setelah pemberian terapi, pasien perlu mengonsumsi obat cair ataupun kapsul, dan dimasukkan ke dalam ruang isolasi selama dua hingga tiga hari. Ini bertujuan agar pasien tidak menjadi sumber radiasi bagi orang lain. Meski begitu, Dokter Hesti mengimbau pasien tidak perlu takut dengan terapi ini. Karena, iodium radioaktif hanya bekerja di sel kanker tiroid.

“Terapi ini menurunkan kemungkinan kekambuhan lokal dan memperbaiki kondisi pasien dengan metastasis” katanya.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here