Mukisi.com-Menjadikan pekerjaan sebagai ladang ibadah, adalah salah satu kerangka berpikir yang mulia. Termasuk di kalangan dokter. Dibalik profesinya yang membantu ikhtiar pasien untuk memperoleh kesembuhan, akan lebih berkah jika diiringi dengan penerapan ilmu agama yang baik bagi dokter yang bersangkutan.

Seorang dokter muslim harus memamahi ilmu agama, khusunya yang terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan profesinya. Sebagaimana hadist dari Mu’awiyah  radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkan baginya ilmu agama” (Muttafaqun ‘alaihi)

“Seorang dokter muslim harus memepelajari ilmu agama yang akan membantunya untuk menunaikan tugasnya mengobati orang sakit,” papar Syaikh Muhammad Shalih Al Munajid hafidzahullah, diambil dari kitab Risalah ilaa at Thabib al Muslim.

Beberapa yang harus dipahami dokter muslim adalah hukum tentang thaharah (bersuci) , hukum tentang perkara-perkara yang najis, serta bagaiaman cara menghilangkan najis, hukum menyentuh alat kelamin, hukum menjamak sholat jika ada kebutuhan, dan hukum-hukum syariat yang lainnya yang berkaitan dengan tugasnya.

Termasuk hal-hal yang harus dipahami dokter muslim bahwa dilarang memberikan pengobatan dengan sesuatu yang tidak dibolehkan dalam Islam, seperti dengan benda-benda najis dan khamr(minuman yang memabukkan).

Oleh karenanya, seorang dokter harus paham halal-haramnya obat yang diresepkan pada pasien, dan memberitahukan terlebih dahulu bila dalam keadaan darurat, obat yang belum halal terpaksa digunakan.

RS Syariah Gencarkan Training Seputar Fiqih Kedokteran

Sebagai bentuk aktualisasi ketaatan pada kaidah Islam, Rumah Sakit (RS) Syariah berupaya menghindari penggunaan obat haram. Pun jika darurat, RS Syariah akan memberi edukasi kepada pasien dan keluarga pasien terlebih dahulu.

Dikatakan oleh dr. Siti Aisyah Ismail, MARS, anggota divisi kerjasama internasional Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi), bahwa Mukisi meyakini penggunaan benda najis sebagai pengobatan sebenarnya dilarang dalam Islam.

Ia kemudian menukil hadits riwayat Abu Dawud, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya. Dan Allah menetapkan untuk setiap penyakit ada obatnya. Karena itu, carilah obat itu dan jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud 3874)

Oleh karena itu, setiap RS Syariah menekankan pentingnya pemahaman agama bagi pekerja medis yang bertugas. Hal ini diwujudkan dalam bentuk training-training seputar fiqih, dan kesehatan islami, agar menciptakan SDM di bidang medis yang tak hanya ahli di bidang kesehatan, namun juga di bidang kesehatan syariah. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here