Mukisi.com-Di era medis modern yang semakin berkembang, periksa kesehatan pranikah, termasuk kesuburan menjadi pilihan yang kini diminati banyak orang. Bagaiamana hukum tindakan yang demikian dalam Islam? Simak ulasannya.

Tes kesehatan pranikah adalah tes yang dilakukan oleh setiap pasangan yang akan merencanakan pernikahan. Tes ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan pria dan wanita, terdiri dari tes golongan darah, kelainan genetik, kesuburan, hingga tes Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes (TORCH). Dengan melakukan tes ini, diharapkan setiap pasangan dapat merencanakan kesehatan keluarga yang akan segera dibina dengan lebih baik lagi.

Mengenai hukumnya dari sisi Islam, Syaikh prof. Abdullah bin Al-Jibrin rahimahullah ditanya,

Apa hukum melakukan pemeriksaan kesehatan bagi calon suami-istri sebelum menikah?

Beliau menjawab, Tidak mengapa jika dikhawatirkan terdapat penyakit di dalam tubuh yang bisa berpengaruh terhadap kesehatan, yang bisa mencegah dari bahagianya kedua pasutri dan mengganggu keharmonisan dan ketenangan dalam rumah tangga. Bisa jadi pada salah satu dari keduanya ada penyakit psikologi, epilepsi atau penyakit kronis. walaupun penyakit yang  (awalnyaa) masih ringan juga seperti asma, diabetes, schistomiasis dan reumatik. Demikian juga penyakit mandul dan tidak produktif.

Akan tetapi jika penampilan fisik (dzahir) kedua calon sehat dan jelas, kemudian masyarakat tempat keduanya tinggal tidak didapatkan penyakit-penyakit ini maka hukum asalnya tidak ada penyakit dan tidak ada yang dikhawatirkan sehingga tidak perlu memeriksa kesehatan setiap calon mempelai. Akan tetapi jika terdapat indikasi dan dikhawatirkan adanya penyakit yang masih samar. Kemudian salah satu calon pengantin atau salah satu wali meminta pemeriksaan kesehatan maka harus dilakukan agar tidak terjadi pertentangan dan perdebatan setelahnya. (Fatawa Asy_syar’iyyah fi masa’ilit thibbiyah)

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafidhahullah berkata,

Seorang laki-laki yang menikahi seorang wanita karena agamanya tanpa mengecek secara detail keadaan fisik dirinya, didasarkan pada baiknya rasa tawakal dan baiknya prasangka kepada Allah,  dan mencontoh generasi pertama Islam, maka hal ini adalah baik.

“Akan tetapi jika ia berkeinginan untuk mengecek kesehatan, terutama sekali jika terdapat tanda-tanda, petunjuk dan indikasi bahwasannya wanita tersebut kemungkinan mempunyai penyakit turunan, seandainya dilakukan maka saya tidak melihat ada masalah dalam hal ini (tidak mengapa dilakukan pemeriksaan cek kesehatan),” jelas dr. Raehanul Bahraen dalam muslimafiyah. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here