Mukisi.com-Dalam ekonomi syariah, ada satu instrument khas yang disebut wakaf. Instrumen ini jika digunakan dengan bijak dapat membantu pertumbuhan ekonomi umat. Bahkan, karakteristik ‘aset’ dalam ekonomi syariah juga tak ada dalam produk ekonomi syariah lain. Mari kita simak ulasan berikut.

Dituturkan oleh Muhammad Yusuf Helmy, Direktur Karim Consulting dalam dream.co.id, ‘aset’ wakaf tidak bisa menggunakan yang habis sekali pakai. Aset dalam wakaf harus bersifat berkelanjutan. “Zakat bisa diberikan dengan beras. Beras habis sekali pakai. Tapi, wakaf pakai beras? Tidak bisa,” katanya dalam acara ‘Potensi Pemanfaatan Wakaf Asuransi bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional’ di Menara Prudential, Jakarta, Selasa lalu (15/5).

Kemudian, wakaf ini terbagi menjadi dua. Wakaf ahli dan wakaf khairi. Wakaf ahli bersifat terbatas, seperti wakaf untuk kuburan keluarga. Yang berikutnya adalah wakaf khairi, yaitu wakaf yang ditujukan untuk pengembangan agama serta masyarakat. Semua orang bisa menggunakan aset wakaf ini.

“Misalnya, wakaf untuk pembangunan infrastruktur,” ungkap Helmy.

Diimbuhkannya, perkembangan wakaf dewasa ini cukup pesat. Dahulu, masyarakat menilai bahwa benda yang bisa diwakafkan adalah aset tak bergerak, tanah misalnya. Maka tak heran, dulu orang-orang memandang, hanya orang-orang kaya yang bisa berwakaf.

Namun, kini wakaf bisa dengan aset bergerak seperti, logam mulia, kendaraan, hingga uang. Agar wakaf ini memenuhi syarat, maka sang penerima wakaf harus mengubah aset bergerak ini menjadi sesuatu yang bermanfaat. “Kini, orang tak perlu menunggu kaya. Hari ini bisa urunan bangun rumah sakit, jalan tol,” lanjutnya.

RS Syariah Turut Serta dalam Pemanfaatan Wakaf

Di sisi lain, akhir-akhir ini nusantara telah ramai dengan adanya rumah sakit bersertifikat syariah. Sertifikasi ini digawangi oleh Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi). Dengan tujuan untuk memberi jaminan pelayanan dengan penuh nilai-nilai syariah di dalamnya, sertifikasi ini dibuat.

Salah satu contoh RS yang telah bersertifikasi syariah dan menggunakan pemanfaatan wakaf adalah RS Islam Sultan Agung (RSISA) Semarang. Meski begitu, Mukisi masih ingin terus belajar dan berdiskusi lebih lanjut tentang penggunaan wakaf untuk RS.

Mereka terus menjalin kolaborasi dengan badan-badan wakaf di Indonesia. Salah satunya adalah Dompet Dhuafa. Dengan adanya kolaborasi ini, Mukisi memiliki banyak harapan. “Kami berharap ada pola kelolaan tersendiri dan profesional untuk mengelola RS berbasis wakaf. Dan kami juga berharap akan lebih banyak lagi pihak yang turut menyebarkan semangat bersyariah di RS,” akunya.

Ia pun juga mengungkap bahwa Mukisi akan terus bekerja sama dengan berbagai badan wakaf. Hingga saat ini, berbagai badan wakaf telah berproses untuk berkolaborasi dengan Mukisi. Selain DD, juga ada Global Wakaf, E-Wakaf, dan Badan Wakaf Indonesia.

Insya Allah, setelah Ramadan, Mukisi akan kembali menindaklanjuti kolaborasi ini,” tutupnya.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here