Mukisi.com – Ibadah puasa dalam bulan ramadhan merupakan salah satu ibadah yang wajib dijalankan oleh setiap muslim. Meskipun jika kondisi tubuh sedang sakit, selama tidak ada indikasi medis bahwa puasa akan memperparah penyakit tersebut maka seseorang tersebut tetap berupaya untuk berpuasa. Beginilah panduan berpuasa bagi yang sakit.

Pertama, konsultasikanlah kepada dokter yang memantau perkembangan kesehatan anda bahwa anda ingin merubah waktu pengonsumsian obat yang telah diberikan karena akan menjalankan ibadah puasa. Sehingga dokter akan menemukan pola konsumsi obat yang paling sesuai untuk pasiennya.

Dilansir dari detikhealth, dr. Nur Azid Mahardinata dari pusat kajian Bioetika dan Humaniora Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa ada banyak aspek yang harus diperhatikan bagi pasien berpuasa.

“Untuk mencapai tujuan pengobatan, pemberian obat harus selalu memperhatikan beberapa aspek penting pengobatan, yaitu aspek jalur pemberian, jadwal pemberian, dan interaksi obat dengan makanan. Aspek-aspek ini menjadi sangat penting di bulan Ramadan karena perubahan pola hidup kita di bulan suci tersebut,” ungkapnya.

Ibadah puasa, ia melanjutkan, merupakan ibadah yang dapat mempengaruhi proses fisiologis dan biokimiawi tubuh, proses-proses tersebut berubah karena memang ada perubahan pola makan dan aktifitas yang dilakukan oleh seseorang selama menjalani puasa. Untuk itu dokter akan memberikan pilihan obat yang tepat bagi pasien yang tetap menginginkan untuk menjalankan ibadah puasa.

Bagi pasien yang memiliki jadwal meminum obat 1 dan 2 kali dalam sehari tidak akan memiliki kendala yang berarti pada bulan ramadhan karena dapat dikonsumsi pada saat waktu sahur dan berbuka. Namun yang menjadi kendala ialah karena jangka waktu yang lama antara waktu sahur dan buka maka dikhawatirkan kadar optimal obat dalam darah tidak tercapai dengan baik sehingga menghambat proses penyembuhan, terlebih lagi pada pasien yang memiliki jadwal meminum obat 3 kali dalam sehari.

Untuk itu, dokter akan memberikan pilihan pengobatan bagi pasien yaitu dengan cara mengubah pilihan obat menjadi dosis satu kali minum atau memilih jenis obat yang lain yang memiliki efek eliminasi yang lebih panjang.

Namun, pilihan-pilihan tersebut tetap mempertimbangkan efek samping dan adanya kemungkinan terjadinya keracunan obat. Ketika dokter memutuskan bahwa hal itu tidak memungkinkan, maka yang paling baik bagi pasien tersebut adalah membatalkan puasanya.

Perlu diperhatikan kembali, sebagai seorang pasien yang sedang sakit, jangan pernah mengubah atau menambahkan dosis kecuali atas persetujuan dokter yang sedang memantau perkembangan kesehatan anda selama bulan puasa, hal ini ditujukan agar pengobatan tetap berjalan dengan maksimal dan menghindari dampak negatif dari efek samping yang timbul dari obat-obat tersebut. (nsa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here