Mukisi.com-Salah satu sumber penyakit paling berpengaruh justru datang dari perut. Oleh karenanya Islam sangat memperhatikan perihal makanan yang sesuai dengan syariat.

Beberapa sumber penyakit dalam ilmu kesehatan adalah makanan, lingkungan, dan penyakit. Dan salah satu penyebab terbanyak penyakit adalah karena makanan. Sebut saja penyakit-penyakit yang muncul di zaman modern ini, mayoritas adalah sakit pola hidup karena makanan yang tidak sehat dan tidak terkontrol. Seperti diabetes yang terlalu banyak makan manis-manis dan makanan berkalori tinggi (es krim, manisan, minuman cepat saji).

Juga kolestrol yang terlalu banyak makan makanan berlemak, berminyak, dan gorengan tidak sehat. Juga hipertensi yang terlalu banyak makan garam dan pola hidup tidak sehat.

Tidak heran dalam hadits dijelaskan bahwa perut adalah “wadah terburuk” yang diisi,

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas” (HR At-Tirmidzi (2380), Ibnu Majah (3349), Ahmad (4/132), dan lain-lain. Dan hadits ini di-shahih-kan olehAl-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2265))

Oleh karenanya Spesialis Patologi Klinik lulusan FK UGM dr. Raehanul Bahraen menyebut bahwa kita diperintahkan agar mengontrol makanan, bukan sekedar untuk memuaskan nafsu mulut dan perut. Juga tidak tamak dan asal makan saja.

“Seorang muslim perlu banyak puasa dan menyedikitkan makanan,” paparnya seperti dikutip dari muslimafiyah.

Imam Na-Nawawi rahimahullah berkata,“Sedikit makan merupakan kemuliaan akhlak seseorang dan banyak makan adalah lawannya.” (Syarh Muslim lin Nawawi 14/25).

Kemudian Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“Karena kekenyangan (memuaskan nafsu perut dan mulut) membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah.” (Siyar A’lam An-Nubala 8/248, Darul hadits, Koiro, 1427 H, syamilah)

Sebuah penelitian yang menyebutkan, perut adalah sumber penyakit dan dengan menjaganya dari aktifitas makan dan minum merupakan obat dari penyakit itu sendiri.

Hal ini dijelaskan oleh Ustad Abdul Razak Muhidin. Ia mengungkap bahwa perut merupakan sumber penyakit. Dan pola hidup sehat sesuai syariat Islam, serta rutin menjalankan puasa merupakan cara ampuh membersihkan perut dari penyakit.

“Dengan mengerjakan puasa maka otomatis perut terjaga dari asupan makanan yang berlebihan yang mungkin membahayakan tubuh dan kesehatan,” paparnya dalam tribunnews.

Lagipula, berdasarkan studi, semakin tidak sehat perut, semakin mempengaruhi kinerja otak.
Penelitian terbaru menemukan keterkaitan antara lemak pada perut dan penyusutan volume materi abu-abu dalam otak. Materi abu-abu mengandung sebagian besar sel saraf otak. Studi ini dimuat dalam jurnal Neurology.

Studi tersebut menunjukkan kelebihan berat badan terkait dengan penyusutan di daerah tertentu dalam otak seperti pallidum, nucleus accumbens, putamen, dan caudate. Semua bagian otak ini terlibat dalam mengatur motivasi dan penghargaan diri.

Studi dilakukan dalam dua tahap. Pertama, peneliti mengukur indeks massa tubuh (BMI) dan rasio pinggang-pinggul pada 9.652 orang paruh baya di Inggris. Hampir satu dari lima peserta penelitian ditemukan mengalami obesitas.

Selanjutnya, para peneliti melakukan tes MRI untuk memindai volume otak peserta. Para peneliti memperhitungkan faktor usia, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan tekanan darah tinggi, yang semuanya menjadi faktor pendorong menurunnya volume otak.

Hasilnya, orang dengan angka BMI dan rasio pinggang-pinggul yang tinggi memiliki volume materi abu-abu yang lebih rendah. “Penurunan ukuran otak meningkat secara linear karena lemak di bagian tengah tubuh (perut) lebih besar,” ujar penulis studi, Mark Hammer, melansir CNN.

“Hubungan antara penurunan volume otak dan lemak pada perut ini menunjukkan adanya peran dari faktor-faktor inflamasi dan vaskular,” jelas ahli psikiatri, Cara Bohon, dari Stanford University. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here