Mukisi.com– Potensi industri halal di Indonesia, kian membaik dari hari ke hari, sejalan dengan tingkat kesadaran masyarakat yang kian tinggi. Pemerintah sudah mencanangkannya melalui master plan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) 2019. Dengan adanya rencana ini tentunya dapat membuat keuangan syariah di Indonesia mengalami peningkatan.

Berdasarkan laporan dari Global Islamic Economy pada tahun 2017, Indonesia telah berbelanja dengan jumlah yang sangat besar, yakni 218,8 miliar dolar AS. Dengan jumlah yang begitu besar, Indonesia mereprentasikan pasar industri halal terbesar di dunia. Dan nilai itu akan terus bertambah.

Meski demikian, Indonesia masih belum mencapai posisi tertinggi secara global, negara dengan perkembangan ekonomi syariah tertinggi. Dikatakan oleh Ketua Indonesia Halal Lifestyle Centre, Sapta Nirwandar dalam Republika, sektor wisata halal merupakan sektor yang mampu meningkatkan potensi industri halal di Indonesia.

“Pariwisata salah satu yang cukup besar kontribusinya ke industri halal. Karena, wisata halal itu sudah mencakup seluruhnya, lokasi, wisata, makanan, hingga sektor riil,” paparnya. Diimbuhkannya, jika permintaan pasar cukup besar pada sektor riil tentu akan membuat perbankan syariah di Indonesia lebih berkembang.

Sementara itu, karena sangat berpotensinya Indonesia menjadi target wisata halal, perkembangan di sektor kesehatan pun tak ketinggalan. Salah satunya dengan hadirnya rumah sakit bersertifikasi syariah hasil kerjasama Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dimana rumah sakit pertama yang menjadi pilot project adalah Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

“Kita harus menangkap potensi ini, dan mengekspor produk halal. Sehingga dapat mengurangi defisit transaksi berjalan sekarang yang semakin besar,” kata Sapta.

Mukisi Tertantang Mengembangkan Sektor Kesehatan Halal

Di sisi lain, menanggapi potensi wisata halal Indonesia, dr. Burhanuddin Hamid Darmadji, MARS, selaku Sekretaris Mukisi pun angkat bicara. Ia juga turut mengakui bahwa Indonesia sangat berpotensi untuk itu. Hanya saja, diperlukan kolaborasi dari berbagai lintas profesi.

Kemudian, dokter Burhan juga berharap bahwa destinasi halal medis terintegrasi juga dengan platform wisata halal di Indonesia. “Kedepannya, untuk membangun jaringan yang lebih solid maka perlu diperjelas agar tarif kompetitif. Alat kesehatan di Indonesia dinilai sebagai barang mewah, sedangkan di Malaysia, pajak alat kesehatan ini zero,” pungkasnya dengan optimis.

Dengan potensi tersebut, ekonomi Indonesia akan berangsur membaik. Memanfaatkan segala potensi yang ada dan membangun keuangan syariah di Indonesia. Agar kelak negeri ini terwujud untuk menjadi potensi wisata halal dunia serta membangun industri halal di dalamnya.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here