Mukisi.com – Akhir-akhir ini banyak yang beranggapan bahwa vaksin adalah sebuah penemuan yang ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik bangsa Eropa sehingga vaksin merupakan salah satu pengobatan yang haram digunakan oleh seorang muslim. Padahal, pakar-pakar kedokteran muslim yang menjadi bapak ilmu kedokteran sudah mengenalkan vaksin sejak dahulu.

Ilmuan Islam sendiri sudah berjaya dalam bidang kedokteran sejak dahulu. Bahkan mereka telah menyumbang banyak sekali penemuan yang dijadikan sebagai landasan ilmu kedokteran modern termasuk penemuan vaksin yang menjadi acuan dokter modern saat ini.

Ar-Razi atau yang terkenal dengan nama Rhazez adalah ilmuan kedokteran muslim yang pertama kalinya menemukan konsep dasar vaksin smallpox (cacar) yang digunakan hingga saat ini.

Beliau melakukan penelitian terhadap seseorang yang terkena cacar dan dalam hasil penelitiannya disimpulkan bahwa seseorang yang sudah terkena cacar tidak akan terkena cacar kembali untuk kedua kalinya dihubungan dengan kekebalan tubuh manusia yang diabadikan dalam bukunya dengan judul al-jadari wa al-hasba (manuskrip asli masih disimpan rapi di Leiden University).

Selanjutnya, penelitian tersebut dikembangkan kembali oleh ilmuan turki pada zaman khalifah Ottoman/Utsmaniyah sehingga menjadi ilmuan Islam yang pertama kali memperkenalkan dan mengembangkan teknik imunisasi di dunia.

Sedangkan, saat ini banyak yang menganggap bahwa vaksin serta penemuan dalam bidang kedokteran yang lainnya adalah hasil penelitian kaum barat. Padahal, itu semua adalah pemahaman yang keliru.

Dahulu, kaum muslimin mendirikan sebuah sekolah kedokteran pertama di Andulusia Spanyol. Sekolah yang didirikan oleh kaum muslimin tersebut kemudian menggemparkan dunia dengan berbagai penemuan modern pada masanya seperti alat bedah, metode opersi caesar, peredaran darah, benang jahit dan masih banyak lagi.

Dengan penemuan-penemuan dalam bidang kedokteran tersebut, ilmuan dan pendidikan Muslim menjadi acuan dan dilirik oleh masyarakat dunia. Hal ini memicu bangsawan Eropa mengirimkan anaknya untuk belajar di pusat studi muslim di Andulusia.

Untuk mempelajari berbagai ilmu kedokteran tersebut, anak-anak bangsawan Eropa tersebut diwajibkan untuk mempelajari bahasa arab sebagai pengantar. Akibatnya, kaum-kaum Eropa pada saat itu mengeluhkan masuknya budaya Arab (Muslim) yang menjadi trend saat itu, dimana pemuda dipandang keren dengan bisa mengatakan uhibbuka (I Love You).

Karena kelalaian serta lemahnya iman umat Muslim (silau dengan kemewahan dunia). Akhirnya Andulisia runtuh, dan berbagai penemuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan serta Teknologi diambil alih oleh ilmuan Eropa.

Hal ini dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, yang artinya “Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani,” Siyar A’lam An-Nubala  8/258, Darul Hadits. (nsa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here