Mukisi.com-Dokter sangat berkaitan erat dengan jasanya di tengah masyarakat. Kemudian muncul pertanyaan, apakah profesi dokter berpahala? Berikut uraiannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya,
“Telah diketahui keutamaan ilmu agama yang merupakan warisan para Nabi. Aku berharap Anda menjelaskan pahala bagi para dokter, karena mereka menghabiskan hari-hari mereka untuk mengurusi orang sakit, membaca dan berdiskusi”.

Beliau rahimahullahu Ta’ala menjawab,

“Tidak diragukan lagi bahwa bagi mereka pahala sesuai dengan niat dan amal mereka. Karena mempelajari ilmu kedokteran bukanlah tujuan pokok itu sendiri, namun merupakan sarana untuk meraih yang lainnya. Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa mempelajari ilmu kedokteran itu fardhu kifayah. Hal ini karena harus ada dokter di tengah-tengah kaum muslimin. Sehingga mereka mengaitkannya dengan hukum fardhu kifayah, karena termasuk dalam perkara yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Maka diterjemahkan dari Al-Irsyaad li Thabiibil Muslim, 1/9 (Maktabah Syamilah), dikutip dari muslim.or.id, bahwa jika manusia (dokter) berniat ketika mempraktekkan ilmunya ini untuk menjalankan kewajiban dan berbuat baik (ihsan) kepada sesama makhluk, maka dia akan mendapatkan pahala yang besar.

Seseorang menjual sesuatu dan mendapatkan dosa karena transaksi jual-belinya. Sebaliknya, seseorang menjual sesuatu dan mendapatkan pahala. Sehingga niat memiliki pengaruh yang besar terhadap pahala seseorang.

Peran Dokter dalam Pandangan Islam

Di samping itu, Islam juga menekankan peran dokter di tengah-tengah umat. Sebagaimana imam syafii mengatakan,
“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan (kesehatan) badanmu.” (Adab Asy-Syafi’i wa manaqibuhuhal. 244, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. I, 1424 H, syamilah)

Maka dari itu, dokter-dokter muslim sejatinya wajib memilihi ghiroh besar dalam mempelajari dan menerapkan ilmu kesehatan syar’i. Sebagaimana imam syafi’i berkata, Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu (ilmu kedokteran) dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.”

Yaitu maksudnya butuh terhadap orang yahudi dan nashrani (jika ingin berobat, karena tidak ada/sedikit kaum muslim yang menguasai ilmu kedokteran).” (Durus Syaikh Muhammad Asy-Syinqitiy)

RS Syariah Utamakan Keberkahan

Rumah Sakit Syariah ini menurut Ketua Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) dr. H. Masyhudi AM, M.Kes. adalah rumah sakit yang aktivitasnya berdasarkan Maqashid al Syariah al Islamiyah. Hal ini sesuai dengan konsep maqashid syariah menurut Imam Syatibi yaitu memelihara agama (khifdz ad-diin), memelihara jiwa (khifdz an-nafs), memelihara keturunan (khifdz an-nasl), memelihara akal (khifdz al-aql), dan memelihara harta (khifdz al-mal). (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here