Mukisi.com-Kebersihan dan kesehatan adalah dua hal yang saling berkaitan. Bila seorang mampu menjaga kesucian, maka risiko terpapar penyakit semakin kecil. Sebagaimana para pakar medis yang menjelaskan anjuran menjaga kebersihan badan dan lingkungan.

Islam telah mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan dan kesucian. Sebagaimana hadits riwayat Al Baihaqi, “Agama Islam adalah agama yang bersih dan suci. Karena itu kamu harus menjaga kebersihan. Maka sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali hanya orang-orang yang suci”.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Purnawan Junaidi dilansir dari Cnnindonesia menyebut, kebiasaan dari dan pola sanitasi masyarakat Indonesia yang rendah nyatanya menyebabkan rentannya terkena penyakit. Misalnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki jamban dan fasilitas sanitasi yang memadai di tempat tinggalnya. Oleh karenanya ia menyarankan untuk selalu peduli terhadap kebersihan dan kesucian lingkungan.

Menjaga kebersihan dan kesucian banyak jenisnya. Beberapa di antaranya adalah bersiwak dua kali sehari, menjaga kebersihan badan, dan menjaga kebersihan pakaian sebagaimana yang telah dilakukan Rumah Sakit (RS) Syariah dalam menjamin kesucian pakaian pasien melalui laundry syariah.

Menjaga Kebersihan Pakaian Pasien dari Najis
Untuk menjaga kebersihan pakaian pasien dari najis, RS Syariah menggunakan laundry syariah. Pemrosesan laundry syariah tentu berbeda dengan laundry pada umumnya. Pada laundry syariah, terdapat prinsip-prinsip dan prosedur syar’i yang harus dipenuhi. RS Syariah sebagai penegak syariat dan kesehatan Islam tak mengabaikan ikhwal laundry syariah ini.

Emi Yuni Astuti, SKM, Kepala bagian laundry RSI Sultang Agung Semarang, rumah sakit pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi syariah, mengatakan, RS Syariah telah menetapkan kebijakan sistem jaminan halal terkait laundry agar komitmen untuk menghasilkan produk halal secara konsisten dapat terwujud.

RS syariah mengakui bahwa terkadang dalam proses pencucian terdapat noda yang sulit dibersihkan, darah pasien misalnya. Untuk menyikapi hal ini, RS Syariah tak lantas membiarkannya untuk kembali digunakan pasien, namun akan dikategorikan pada “produk reject”.

“Apabila masih ada noda, dilakukan treatment menggunakan bahan dan metode khusus, setelah itu dilakukan pencucian ulang dan dicheck ulang. Jika masih terdapat noda atau darah dan tak bisa dihilangkan, maka kita kategorikan sebagai product reject dan akan diinventaris serta digudangkan,” jelasnya.

Kemudian, Sumber Daya Insani (SDI) laundry syariah di RS Syariah juga mendapatkan ilmu tentang fiqh thoharoh secara rutin tiap satu tahun sekali. Sehingga dapat dipastikan para SDI di RS Syariah sudah memahami betul tentang thoraroh dan menjaga kesucian.

Penggunaan Alat Pel dan Sandal Kamar Mandi
Tak hanya menjaga kebersihan jiwa melalui bimbingan rohani, RS Syariah juga menjaga kebersihan fisik dan lingkungan pasien. Hal ini dilakukan dengan cara menerapkan penggunaan simbol yang berbeda pada alat-alat kebersihan. Simbol tersebut dibedakan berdasar area yang suci dan non suci.

Mop bersimbol biru untuk membersihkan area selasar dan kantor. Mop berwarna putih untuk membersihkan area musholla dan masjid. Mop merah untuk membersihkan area kamar mandi. Sedangkan mop kuning untuk membersihkan area kamar pasien dan laundry. Hal ini ditujukan agar tidak terjadi pencampuran penggunaan alat kebersihan untuk area suci dan non suci.

Sementara itu, penggunaan sandal khusus kamar mandi untuk menjaga kesucian dari najis. RS syariah memastikan agar pasien dapat terfasilitasi dengan baik ikhwal kebersihan. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here