Mukisi.com-Selain limbah makanan dan peralatan atau obat-obatan medis, limbah air juga harus diperhatikan pengolahannya. Jika tidak demikian, air yang kotor bisa menurunkan penilaian kebersihan suatu rumah sakit dan pelayanan kepada pasien tidak maksimal.

Air tak lepas dari kebutuhan rumah sakit, baik untuk pasien maupun karyawan. Agar dapat menekan pengeluaran dari kebutuhan air, rumah sakit bisa mendaur ulang air yang dimiliki.

Melansir dari republika, dalam prosesnya, air limbah rumah sakit yang berasal dari toilet dan tempat cucian diendapkan dalam tempat penampungan. Air yang telah diendapkan, didaur ulang dengan alat-alat filtrasi dan bahan kimia seperti, karbon aktif, klorin, asam sitrat, dan lainnya.

Oesmena Gunawan, Wakil Ketua Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dalam situs yang sama mengatakan, pada dasarnya air naik secara alami ke atas menjadi awan melalui penguapan. Awan ini jatuh ke bumi dalam bentuk hujan dan embun, menguap lagi, dan begitulah proses filtrasi air secara alami.

Penyucian Air Bernajis

Di sisi lain, dikatakan oleh Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. Hasanudin AF, pandangan awal para anggota Komisi Fatwa MUI beranggapan air bersih belum tentu suci. Karenanya, proses daur ulang harus benar-benar diperhatikan agar memenuhi standar suci.

Ia mengimbuhkan, ada tiga cara untuk menyucikan air agar bisa dipakai kembali. Yang pertama dilakukan dengan menguras air kotor dalam wadahnya sehingga, air yang keluar selanjutnya menjadi air bersih dan suci. Lalu, pada cara yang kedua dengan mengguyur banyak air bersih dan suci. Agar air yang bersih ini lebih banyak daripada air yang najis.

Dan cara yang ketiga ,yaitu air diendapkan, disaring secara bertahap dengan menambahkan beberapa bahan kimiawi. Dengan cara ini, air yang sebelumnya kotor dan najis dapat bersih dan suci.

Proses penyucian ini pun harus memenuhi standar syariah, yaitu telah hilang bau, rasa, dan warnanya. Barulah air ini dapat dianggap air mutlak. Secara asal suci, sampai berubah rasa, bau, atau warnanya.

“Dengan beberapa rangkaian proses, seperti pengendapan, penyaringan, dan perlakuan kimiawi dapat membuat air daur ulang bersih. Memenuhi tiga kaidah syari. Maka, para anggota Komisi Fatwa MUI sepakat, air proses daur ulang tersebut dianggap air mutlak, suci dan menyucikan,” terangnya.

Setelah disucikan, barulah air tersebut dapat dipakai kembali. Agar juga layak dikonsumsi, ada baiknya air hasil daur ulang itu di uji di laboratorium. Dan dengan begitu pengeluaran rumah sakit untuk air mampu ditekan. Dan pelayanan pasien pun tetap maksimal.(ipw)

Olah Air Limbah Rumah Sakit

Selain limbah makanan dan peralatan atau obat-obatan medis, limbah air juga harus diperhatikan pengolahannya. Jika tidak demikian, air yang kotor bisa menurunkan penilaian kebersihan suatu rumah sakit dan pelayanan kepada pasien tidak maksimal.

Air tak lepas dari kebutuhan rumah sakit, baik untuk pasien maupun karyawan. Agar dapat menekan pengeluaran dari kebutuhan air, rumah sakit bisa mendaur ulang air yang dimiliki.

Melansir dari republika, dalam prosesnya, air limbah rumah sakit yang berasal dari toilet dan tempat cucian diendapkan dalam tempat penampungan. Air yang telah diendapkan, didaur ulang dengan alat-alat filtrasi dan bahan kimia seperti, karbon aktif, klorin, asam sitrat, dan lainnya.

Oesmena Gunawan, Wakil Ketua Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dalam situs yang sama mengatakan, pada dasarnya air naik secara alami ke atas menjadi awan melalui penguapan. Awan ini jatuh ke bumi dalam bentuk hujan dan embun, menguap lagi, dan begitulah proses filtrasi air secara alami.

Penyucian Air Bernajis

Di sisi lain, dikatakan oleh Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. Hasanudin AF, pandangan awal para anggota Komisi Fatwa MUI beranggapan air bersih belum tentu suci. Karenanya, proses daur ulang harus benar-benar diperhatikan agar memenuhi standar suci.

Ia mengimbuhkan, ada tiga cara untuk menyucikan air agar bisa dipakai kembali. Yang pertama dilakukan dengan menguras air kotor dalam wadahnya sehingga, air yang keluar selanjutnya menjadi air bersih dan suci. Lalu, pada cara yang kedua dengan mengguyur banyak air bersih dan suci. Agar air yang bersih ini lebih banyak daripada air yang najis.

Dan cara yang ketiga ,yaitu air diendapkan, disaring secara bertahap dengan menambahkan beberapa bahan kimiawi. Dengan cara ini, air yang sebelumnya kotor dan najis dapat bersih dan suci.

Proses penyucian ini pun harus memenuhi standar syariah, yaitu telah hilang bau, rasa, dan warnanya. Barulah air ini dapat dianggap air mutlak. Secara asal suci, sampai berubah rasa, bau, atau warnanya.

“Dengan beberapa rangkaian proses, seperti pengendapan, penyaringan, dan perlakuan kimiawi dapat membuat air daur ulang bersih. Memenuhi tiga kaidah syari. Maka, para anggota Komisi Fatwa MUI sepakat, air proses daur ulang tersebut dianggap air mutlak, suci dan menyucikan,” terangnya.

Setelah disucikan, barulah air tersebut dapat dipakai kembali. Agar juga layak dikonsumsi, ada baiknya air hasil daur ulang itu di uji di laboratorium. Dan dengan begitu pengeluaran rumah sakit untuk air mampu ditekan. Dan pelayanan pasien pun tetap maksimal.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here