Mukisi.com– Dewasa ini, gaya hidup halal kian menjadi trend di kalangan umat Islam. Tidak hanya soal kehalalan makanan tetapi juga soal pelayanan kesehatan halal di rumah sakit. Munculnya RS Syariah menjadi terobosan baru untuk memudahkan gaya hidup kesehatan halal.

Dikatakan oleh dr. Masyhudi AM, M.Kes, Ketua Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi), pihaknya telah bekerjasama dengan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI untuk merintis rumah sakit syariah di Indonesia.

Dalam jumpa pers pada Selasa (27/2) lalu di Bekasi, ia mengungkap bahwa hingga saat ini, rumah sakit yang telah tersertifikasi syariah sebanyak 18 rumah sakit. Dan, lebih dari 40 rumah sakit sedang dalam tahap survei. Sertifikasi ini ada untuk memberi pelayanan berbasis Islami pada masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

RS Syariah untuk Semuanya

Tak ada batasan bagi rumah sakit untuk mensertifikasi syariah. Sertifikasi ini diperuntukkan bagi semua rumah sakit. Baik rumah sakit milik pemerintah maupun swasta.

Kelebihan rumah sakit syariah, dikatakan oleh dokter Masyhudi, di antaranya ada jaminan gizi halal, penjagaan aurat pasien baik masa perawatan maupun masa gawat darurat, dan jaminan penjagaan akidah dan ibadah bagi pasien muslim.

“Syariah memang saat ini sudah diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan dan ini memang sedang kita kembangkan. Rumah sakit syariah memang menjadi modifikasi bagi Mukisi untuk mengembangkan rumah sakit di Indonesia,” ujarnya, dikutip dari Republika.

Untuk melakukan sertifikasi ini, ia mengatakan, rumah sakit perlu mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (Kars) dan lolos dari survei Mukisi. Jika sudah terpenuhi kedua hal itu, maka DSN MUI akan memberikan sertifikat rumah sakit syariah kepada rumah sakit tersebut.

Kemudian, sertifikasi syariah tersebut berlaku dalam jangka waktu tiga tahun saja. Setiap tahun, Dewan Pengawas Syariah (DPS) dari eksternal rumah sakit mengadakan peninjauan kembali, atau biasa disebut survei istiqomah.

Tujuan dari diadakannya survei ini yaitu, untuk memantau kesesuaian penerapan nilai syariah di dalam rumah sakit yang telah tersertifikasi. Karenanya, ia menambahkan, jika di tengah perjalanan rumah sakit syariah terhadap ketidaksesuaian nilai syariah, sangat mungkin jika sertifikasi ini bisa dicabut.

“Jadi, prosesnya itu mulai dari pendampingan survei oleh Mukisi, dilanjutkan pra survei oleh Mukisi. Barulah di survei oleh MUI, dan sertifikat dari MUI inilah yang diakui negara,” papar pria yang juga Direktur Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

Rumah sakit syariah telah menjadi solusi bagi umat Islam di Indonesia. Menjamin pelayanan secara syariah untuk menunjang gaya hidup halal. Dengan menerapkan gaya hidup halal, hidup akan semakin berkah dan diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here