Mukisi.com – Kondisi kritis yang dialami oleh pasien mengaruskan dokter melakukan pemasangan alat resusitasi sebagai usaha untuk menyelamatkan jiwa pasien. Namun, ada beberapa kondisi yang memaksa agar alat itu dicabut. Bagaimana hukumnya?

Dr. Raehanul Bahraen, M. Sc, Sp. PK seorang dosen di fakultas kedokteran Universitas Mataram (Unram) menjelaskan dalam website pribadinya muslimafiya, bahwa ada hal-hal yang yang perlu diperhatikan mengenai hal ini.

Menurut pengalamannya, ada kondisi saat keluarga pasien memutuskan agar alat-alat resusitasi yang dipasangkan pada pasien dilepas. Hal tersebut biasanya di latar belakangi oleh kondisi ekonomi yang sudah tidak lagi sanggup untuk membiayai pengobatan pasien, serta prognosisnya dalam kondisi yang buruk, yaitu untuk mempertahankan hidup beberapa hari saja dengan menggunakan alat resusitasi.

“Saat-saat seperti ini sangat sering terjadi. Hal ini memang dikarenakan biaya perawatan pasien di ruang ICU membutuhkan sekitar 5 hingga 15 juta per harinya,” tutur alumnus Fakultas Kedokteran UGM tersebut

Ia juga mengatakan bahwa ada beberapa hal yang memang perlu dirinci mengenai hukum mencabut alat resusitasi pada pasien. Yang pertama, jika pasien masih memiliki kesempatan hidup dengan dibantu alat resusitasi, maka alat resusitasi harus dibiarkan.

Kondisi yang kedua, ketika alat resusitasi hanya digunakan untuk memperpanjang hidup pasien untuk beberapa hari saja dan prognosis pasien buruk kedepannya, misal kanker yang diderita sudah dalam stadium lanjut dan sudah menyebar ke dalam paru-paru dan otak, ditambah lagi dengan kondisi ekonomi keluarga yang sudah tidak lagi mampu membiayai pengobatan pasien.

Sesuai dengan kaidah fiqh, “Memilih di antara dua mafsadah yang paling ringan,” maka alat resusitasi boleh dicabut. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, serta memilih mafsadat yang paling ringan.

“Kondisi yang memang secara nyata membolehkan dokter untuk mencabut alat resusitasi adalah ketika batang otak pasien sudah mati,” tegas Pimpinan Redaksi Majalah Kesehatan Muslim Tersebut

Kondisi tersebut didasarkan pada ketetapan Majma’ Fiqh Al-Islami, yaitu jika kondisi denyut jantung dan nafas telah berhenti secara total dan tim dokter telah memastikan bahwa hal ini tidak bisa kembali dan jika semua aktifitas otak telah berhenti (mati batang otak) dan tim dokter (spesialis) telah memastikan bahwz hal ini tidak bisa kembali dan otak mulai mengalami kerusakan. (nsa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here