Mukisi.com- Berbicara soal aborsi, akan selalu menuai pro dan kontra. Namun, ada beberapa kasus yang memang aborsi harus dilakukan. Baru-baru ini, pemerintah sedang menyiapkan layanan aborsi aman dan sesuai aturan.

Aborsi sebenarnya adalah suatu yang dilarang di Indonesia. Dalam Undang-undang Kesehatan pada pasal 75 ayat 1, menggugurkan kandungan (aborsi)  adalah suatu hal yang dilarang, kecuali pada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan seorang melakukan aborsi.

Kondisi-kondisi tertentu yang diperbolehkan melakukan aborsi, ada pada pasal 75 ayat 2, di antaranya, indikasi kedaruratan medis sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu atau janin, yang menderita penyakit genetik berat atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan.

Pemerintah Siapkan Aborsi Aman yang Terpadu

Namun, pada Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi juga mengatur tentang usia kehamilan yang diperbolehkan melakukan aborsi. Menurut pasal 31 peraturan tersebut, tindakan aborsi akibat pemerkosaan hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama 40 hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

“Kami sedang menyiapkan peraturan yang lebih operasional. Untuk beberapa rumah sakit, terutama rumah sakit pendidikan, sudah ada tim untuk melakukan aborsi aman yang terpadu, termasuk layanan konseling oleh psikologis dan psikiater,” jelas Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kirana Pritasari, dikutip dari republika.

Ia pun mengakui, proses ini membutuhkan waktu karena permasalahannya tidak sederhana, dan cakupan Indonesia sangat luas, tidak hanya Jakarta. Karenanya, Kirana sedang mempersiapkan tim fasilitator dan berkoordinasi dengan organisasi profesi. Tenaga kesehatan yang boleh melakukan aborsi aman harus terlatih dan tersertifikasi.

“Tim harus dilatih. Juga perlu koordinasi dengan kepolisian untuk kasus pemerkosaan,” ujarnya.

Aborsi di Mata MUI

Sementara itu, kembali menyoal aborsi, dikutip dari detik, Almarhum Ali Mustafa Yaqub yang sempat menjadi Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga beranggapan aborsi boleh dilakukan dalam kondisi tertentu.

“Pada kasus perzinaan, aborsi tidak diperbolehkan. Hanya saja bila ada kondisi dan syarat tertentu, kandungan terpaksa harus digugurkan, maka ada ketentuannya,” katanya.

Bahkan, kebolehan aborsi karena kondisi khusus ini juga tertuang dalam keputusan MUI tahun 2009. Kondisi khusus yang disebutkan dalam keputusan tersebut sama seperti Undang-undang pasal 75 tadi.

Dan aborsi tersebut harus dilakukan oleh orang yang berwenang, terdiri dari ulama, keluarga korban, dan dokter. Dan hanya boleh dilakukan bila umur janin belum berusia 40 hari. Ali kembali menegaskan bahwa aborsi haram hukumnya jika terjadi akibat perzinaan, dan tidak terdapat kondisi-kondisi seperti yang dijelaskan.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here