Mukisi.com– Dokter Muslim dan Dokter Non Muslim tentu saja seharusnya berbeda. Nilai-nilai keislaman, seharusnya akan mudah terlihat oleh para dokter muslim. Selain menguasai ilmu kedokteran, dokter muslim, diharapkan juga mempunyai  perilaku dan etika yang mulia.

Secara terminologis, etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat, budi pekerti (Bahasa Inggris = ethics). Jadi, etika dapat dipahami sebagai ilmu mengenai kesusilaan.

Dalam etika kedokteran Islam tercantum nilai-nilai bahwa Qur’an dan Hadits adalah sumber segala macam etika yang dibutuhkan untuk mencapai hidup bahagia dunia akhirat. Sehingga etika kedokteran mengatur kehidupan, tingkah laku seorang dokter dalam mengabdikan dirinya terhadap manusia baik yang sakit maupun yang sehat.

Niat karena Allah

Hal pertama yang perlu diteka nkan dalam menjadi dokter muslim adalah niat (yang ikhlas) dan mengharapkan pahala dari Allah. Niat adalah pondasi  amal. Baiknya suatu amal ditentukan oleh dua syarat, yaitu; Ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikuti  sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana yang dilansir dari kesehatanmuslim.com, sesungguhnya seorang dokter yang mencari wajah Allah dengan profesinya, maka akan menemukannya sebagai orang yang sangat mementingkan pasiennya. Dia mencurahkan apa yang dimiliki dan dimampuinya demi kesehatan dan kebaikan pasien,

Dia mengobati pasien dengan  ilmu yang benar, tidak memberatkan pasien mengeluarkan  uang banyak, seperti melakukan pemeriksaan atau memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan berdasarkan ilmu kedokteran.

Menghargai Hak Pasien

Di antara menghargai hak pasien adalah peduli dengan penderitaan pasien karena sakit yang dialaminya dan menentukan pengobatan dengan mempertimbangkan pendapat pasien dan perasaannya.

Kemudian juga wajib memperhatikan kaidah-kaidah syar’i ketika memeriksa pasien wanita di saat kondisi darurat, tidak boleh membuka aurat laki-laki ataupun wanita kecuali dalam kondisi darurat.

Demikian juga menjaga waktu pasien dan mempertimbangkan kebiasaannya, kewajiban-kewajibannya dalam keluarganya, pekerjaannya, dan studinya. Menjaga rahasia pasien sesuai ketentuan syar’i. Bersama itu mendo’akan dan meruqyah pasien dengan dengan do’a dan ruqyah yang disyariatkan. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here