Mukisi.com– Revolusi industri telah datang. Teknologi semakin pesat berkembang. Kita ada di sebuah era disruptif di mana semua menjadi mudah. Semua lini bisnis, satu per satu beradaptasi. Pun demikian dengan rumah sakit..

Clayton M. Christensen, Profesor Administrasi Bisnis, Harvard Business School mengartikan disruptif adalah perubahan mendasar yang sifatnya destruktif. Menggantikan seluruh cara kerja lama dengan pembaruan mendasar.

Ciri khas dari disruptif ini yaitu, pembaruan berbasis teknologi yang membuat semuanya lebih mudah, lebih murah, dan lebih memenuhi kebutuhan pelanggan yang ikut berkembang secara dinamik.

Sementara itu, pencanangan Making Indonesia 4.0 oleh Presiden Joko Widodo adalah tanggapan pemerintah Indonesia terhadap desruptif dunia industri global yang memasuki era industri 4.0.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama RS Pelni Jakarta, DR. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.B, Sp.BTKV (K), mengatakan rumah sakit harus juga mampu bertransformasi dalam era digital, seperti dikutip dari neraca.co.id.

“Dari sisi pembiayaan, kita mendisrupsi sistem pembiayaan dengan bundling payment INACBG. Dari sisi penjamin, BPJS Kesehatan telah mendisrupsi kita semua dengan Vedika dan E-Claim,” jelasnya.

Pemimpin RS Harus Menyadari The Future is Now

Ia juga menegaskan, rumah sakit harus dibangun sebagai organisasi yang agile atau tangkas dalam menyikapi perubahan. Karenanya, ada beberapa hal penting yang harus dilakukan agar rumah sakit dapat beradaptasi di era disruptif.

Yang pertama kata Dokter Fathema, para pemimpin RS harus benar-benar paham bahwa masa depan itu sudah sampai. “The future is now,” ujarnya. Ini dibuktikan dengan mulai merebaknya penggantian tenaga-tenaga kesehatan dengan kecerdasan buatan.

Ia mencontohkan di Beijing, kecerdasan buatan yang dikembangkan disana mampu membuat diagnosis yang benar dan akurat, terhadap 87 persen dari 225 kasus dalam waktu 15 menit.

Lalu, yang kedua, dokter Fathema mengatakan, para pemimpin rumah sakit perlu melakukan transformasi budaya. Dengan memiliki sifat terbuka akan perubahan dan mendukung tumbuhnya perbaikan berkelanjutan dengan digital mindset. Ini penting dilakukan agar rumah sakit tak hanya bertahan, namun juga memenangi situasi di era disruptif ini.

Yang ketiga dilanjutkannya, para pemimpin rumah sakit harus belajar soal digital disruption. Dengan begitu, para pemimpin rumah sakit dapat membuat rancangan strategi untuk rumah sakit. Hal ini dapat dimulai dengan hal sederhana.

Misalnya dengan memberikan pelayanan yang lebih efektif dan efisien. “Ini semua memerlukan bantuan teknologi,” ujar dokter Fathema.

Kemudian, yang keempat, rumah sakit harus melihat kembali bagaimana hubungan antar fasilitas kesehatan (faskes) dalam jenjang rujukan. Rumah sakit harus memastikan apakah aliran informasi yang ada berjalan dengan baik, sudah menggunakan telemedicine dengan benar, dan lainnya. Hal ini untuk mengantisipasi hambatan berarti antara pasien dengan rumah sakit.

Dan yang kelima adalah pemimpin rumah sakit harus sadar bahwa era disruptif tak hanya bersifat digital, non digital pun juga banyak. Perubahan harga mata uang, regulasi baru, dan lain sebagainya yang perlu di antisipasi. Untuk mengantisipasi hal ini dapat dilakukana dengan membangun budaya pegawai yang adaptif akan perubahan.

Era disruptif menjadi tantangan sekaligus peluang bagi rumah sakit. Adanya era ini, tak hanya mengubah cara berbisnis namun budaya hingga ideologi berbisinis. Bagi rumah sakit, era disruptif dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien. Dengan begitu, rumah sakit tak hanya bertahan dari jaman ke jaman, namun juga mampu memenangi kompetisi.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here