Mukisi.com-Tak mudah memang menjalani masa-masa saat sakit. Namun siapa sangka sakit merupakan momen yang tepat untuk bahagia. Tulisan ini akan menjelaskannya.

Terdengar kontradiktif memang, namun inilah yang disampaikan oleh ustadz Ammi Nur Baits, dewan Pembina laman konsultasisyariah.

Menurutnya, sakit adalah bentuk cinta Allah terhadap hamba-Nya. Kemudian ia menukil hadits riwayat Ahmad 23623, Tirmidzi 2396 yang dishahihkan al-Albani. “Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka denagn musibah. Siapa yang ridha dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka Allah.”

Oleh karenanya, ia lebih menyarankan muslim untuk ridha dengan keadaan sakitnya itu. Sebab menurutnya, ada dua sikap manusia yang berbeda. Ada yang memahami musibah  itu dengan baik, sehingga dia bisa ridha terhadap ujian yang Allah berikan. Dia berkeyakinan bahwa ujian ini adalah sumber pahala baginya. Sehingga sama sekali dia tidak merasa telah didzalimi oleh Allah. Di saat itulah, Allah akan memberikan keridhaan dan pahala yang besar kepadanya.

Dan ada orang yang menyikapi musibah itu dengan cara yang salah. Dia menganggap sakit ini adalah kezaliman dan ketidakadilan.

Abu Said bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;

“Para nabi, kemudian orang shaleh. Sungguh ada diantara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Ada juga yang diuji dengan kutu badan dan rambutnya, sampai kutu itu membunuhnya. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih bangga dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan kalian ketika mendapat rezeki.” (HR. Abu Ya’la dalam al-Musnad 1045, al-baihaqi dalam Sunan al-Kubro (3/372), Hakim dalam al-Mustadrak 119, dan dishahihkan al-Albani).

“Memang seperti itulah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang shaleh. Mereka seharusnya bisa berbahagia ketika sakit. Mereka lebih gembira dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan orang yang baru saja mendapatkan banyak harta. Karena mereka meyakini, sakit adalah sumber pahala baginya,” papar ustadz Ammi.

Hal ini didukung oleh Ustadz A Salim Fillah, penulis buku Islami yang juga merupakan penceramah di Pro-You Channel mengatakan sakit adalah jihad. “Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, di wajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya,” paparnya.

Rumah Sakit Syariah Beri Dukungan Moril untuk Pasien

Di rumah sakit-rumah sakit syariah, diberlakukan konsultasi fiqih dan spiritual. Manajer Bidang BPI (Bimbingan Pelayanan Islam) RSI Sultan Agung Semarang, H.Samsudin Alim, S.Ag, M.Ag mengatakan, “RS Syariah berupaya memelihara kesabaran pasien saat ditimpa musibah sakit, serta ridha menerima keadaan. Ini sangat mempengaruhi kesembuhan pasien,” pungkasnya. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here