Mukisi.com– Kebiasaan membakar sampah yang telah dilakukan oleh sebagian besar orang Indonesia ternyata memiliki dampak berbahaya bagi kesehatan. Kegiatan itu bahkan dapat meningkatkan resiko penyakit-penyakit berbahaya seperti kanker.

Dilansir dari alodokter.com, sampah yang dibakar dapat menghasilkan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan  seperti formaldehida, dioksin, karbonmonoksida, dan furan. Gangguan yang kesehatan yang disebabkan oleh zat-zat berbahaya tersebut dapat bermacam-macam, mulai dari yang ringan seperti batuk, mual, sakit kepala, dan mata merah berair.

Tentunya asap yang dihasilkan oleh pembakaran sampah tersebut juga akan berpengaruh terhadap penderita asma karena dapat memicu terjadinya serangan asma. Sedangkan bagi seseorang yang memiliki riwayat penyakit jantung atau paru-paru, asap yang mengantung zat berbahaya tersebut akan memperparah kondisi kesehatannya tersebut.

Dr. Allert Noya salah satu tim dokter dari alodokter juga mengungkapkan ”Paparan dioksin yang dihasilkan dari pembakaran sampah dapat meningkatkan resiko seseorang untuk terkena beberapa jenis kanker, gangguan hati, gangguan pada sistem kekebalan tubuh, serta gangguan pada sistem reproduksi,” ungkapnya di website resmi alodokter.

Kemudian dr. Allert memaparkan bahwa zat-zat bebahaya (residu berupa zat kimia berbahaya) yang dihasilkan akibat pembakaran sampah dapat diserap oleh sayuran serta buah-buahan yang tumbuh disekitarnya. Ketika sayuran dan buah tersebut dikonsumsi oleh manusia, tentunya manusia yang mengonsimnya akan ikut terpapar zat berbahaya yang dihasilkan oleh pembakaran sampah tersebut.

Selain dapat diserap oleh tanaman, zat-zat berbahaya tersebut ternyata dapat masuk ke dalam susu dan daging. Hal ini dikarenakan hewan disekitar pembakaran sampah terpapar oleh zat-zat berbahaya tersebut baik melalui udara maupun melalui tanah tempat hewan tersebut mencari makan. Tentunya daging dan susu yang sudah terkontaminasi tersebut akan berbahaya bagi kesehatan manusia apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.

Berdasarkan dampak yang telah dipaparkan tersebut, dr. Allert menyarankan, “Demi menjaga kesehatan, masyarakat tidak dianjurkan untuk membakar sampah, lebih baik mengusahakan untuk mengurangi sampah hasil rumah tangga, menggunakan kembali sampah yang masih bisa dipakai, mendaur ulang atau menyerahkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) agar dapat diproses sesuai dengan persyaratan teknis,” sarannya.

Hal tersebut dilakukan agar orang-orang disekitar kita termasuk anak-anak dan keluarga terhindar dari beragam bahaya kesehatan yang disebabkan oleh zat-zat kimia beracun yang dihasilkan dari pembakaran sampah. Tentunya, setelah ada usaha-usaha untuk memperbaiki pengolahan sampah, lingkungan hidup kita akan lebih bersih dan sehat. (nda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here