Mukisi.com- Dua tahun lamanya, RSI Klaten terus belajar dan berbenah agar mampu memenuhi standar RS Syariah. Dengan ikhitiar yang luar biasa, kini RSI Klaten resmi menyandang gelar RS Syariah.

Berdasarkan SK No 001.78.09/DSN-MUI/2019, RSI Klaten resmi menjadi RS Syariah pada 7 Januari lalu. Pencapaian ini merupakan hasil jerih payah sivitas RS yang terus berbenah sehingga memenuhi standar RS Syariah.

Mulai dari mengikuti workshop tentang RS Syariah, studi banding ke RS yang telah tersertifikasi syariah, mengikuti sertifikasi gizi dan laundry halal, melakukan simulasi dan survey, hingga selalu antusias mengikuti bimbingan dari Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi).

Sukses Membenahi Beberapa Elemen

Menjadi RS Syariah tidaklah mudah, banyak standar yang harus dipenuhi. Namun hal ini berhasil ditaklukan oleh RSI Klaten. Dengan tekad kuat, sivitas RS berhasil membenahi fasilitas dan pelayanan hingga sesuai standar RS Syariah.

“Kami membenahi dari segi pelayanan, harus sesuai dengan indikator wajib RS Syariah dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) RS Syariah,” papar Direktur Utama RSI Klaten dr. H. Sutrisno, M.Kes

Penerapan indikator wajib tersebut antara lain mendampingi pasien sakaratul maut dengan talqin, mengingatkan waktu shalat bagi pasien dan keluarga, juga pemasangan kateter sesuai gender.

Sedangkan indikator SPM, RSI Klaten menerapkan hijab untuk pasien, mandatory training untuk fikih pasien, edukasi islami berupa buku kerohanian dan leaflet, pemasangan EKG sesuai gender, pemakaian hijab menyusui, pemakaian hijab di kamar operasi, dan penjadwalan operasi elekif (terencana) tidak terbentur waktu shalat.

Fasilitas RS pun dibenahi, mulai dari pengadaan mushola di setiap lantai, menyediakan tayamum pad, pedasui, jilbab, pemasangan pesan-pesan agama di berbagai tempat sebagai bentuk syiar Islam melalui banner kaligrafi, dan arah kiblat pada tempat-tempat yang strategis.

Pengukuran Arah Kiblat dibantu Kemenag

“Kami juga melakukan pengukuran arah kiblat bekerjasama dengan Kementrian Agama Kabupaten Klaten untuk memastikan arah kiblat di semua tempat shalat tepat,” ujar pria yang akrab disapa dr. Tris tersebut.

Alhamdulillah semua berjalan lancar, tantangan terbesar justru terletak pada upaya memahamkan semua karyawan mengenai standar RS Syariah, terutama para dokter dalam mandatory traning, namun semua bisa dijalankan dengan baik,” imbuhnya.

Didukung Banyak Pihak

RSI Klaten menyampaikan ucapan terima kasih kepada banyak pihak yang telah mendukung dan membantunya untuk menjadi RS Syariah. Tak hanya kalangan internal, namun juga eksternal.

Mulai dari dukungan yayasan yang dengan sepenuh hati memfasilitasi RSI Klaten dalam rangka mensukseskan sertifikasi, kepada MUKISI yang juga memberikan banyak bimbingan, serta LPPOM MUI yang menerbitkan sertifikat halal bagi Instalasi Gizi dan Unit Laundry RSI Klaten, dan MUI yang telah merespon dengan cepat dan luar biasa melakukan survey sertifikasi syariah.

“Juga kepada RS yang sebelumnya telah tersertifikasi syariah, mereka banyak berbagi pengalaman dan ilmu kepada kami. Yaitu RSI Sultan Agung, RS Amal Sehat Wonogiri dan RSKB Nurhidayah Jogjakarta,” ucapnya.

Diakui dr. Tris, tim akreditasi yang telah dibentuk oleh RSI Klaten sangat berperan dalam disertifikasinya RSI Klaten sebagai RS Syariah. Menurutnya, tim akreditasi selalu mengadakan kerjasama yang baik dengan Komite Syariah.

“Sehingga tim akreditasi memiliki peranan yang cukup besar dalam persiapan sertifikasi,” paparnya.

Bertekad Terus Mengikuti Forum RS Syariah

Meski sudah menjadi RS Syariah, RSI Klaten tetap merasa ‘haus ilmu’ akan RS Syariah. Oleh karenanya, RSI Klaten bertekad untuk terus mengikuti forum RS Syariah melalui Mukisi agar mendapatkan informasi terbaru mengenai penerapan standar sertifikasi syariah di Indonesia.

“Kami berharap RSI Klaten bisa memberikan nilai lebih kepada masyarakat dengan diterapkannya standar RS Syariah.  Harapan kami pasien mampu menghadapi rasa sakit dengan bijak, Menjadi lebih sabar dengan sakitnya sehingga mendapatkan pahala kesabaran, menjadi bersyukur dengan sakitnya karena memahami bahwa sakitnya merupakan penghapusan dosa, pasien tidak meninggalkan ibadah wajibnya (solat) selama sakit. Dan apabila sembuh bertambah taqwanya, dan apabila meninggal semoga husnul khotimah dan mampu mengucap kalimat tauhid,” tuturnya.

Menjadi RS Syariah adalah Bagian dari Syiar Agama

Direktur menjelaskan, bahwa menjadi RS Syariah bukanlah untuk mengejar sertifikat semata, tapi sebagai bagian dari syiar agama Allah.

“Demi izzatul Islam (kejayaan Islam). Mari saling bahu-membahu untuk seluruh RS Islam, berusaha mendorong penerapan nilai-nilai syariat dalam dunia perumahsakitan. Kita harus mampu menjadi pejuang-pejuang Allah,” ungkap dia.

Kemudian ia menukil firman Allah yang berbunyi, “Barangsiapa yang menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kamu dan meneguhkan pendirianmu.” (Din)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here