Mukisi.com– Sebagian besar dari kita menganggap orang yang tidak bisa berhenti dari merokok karena adiksi. Hal ini ternyata tidak sepenuhnya benar. Bahkan, hampir semua masyarakat Indonesia merokok bukan karena adiksi, yang berarti lebih mudah untuk dihentikan.

“Adiksi itu jika tidak melakukannya, orang berada dalam kondisi sakau, seperti saat orang sudah kecanduan narkoba,” ujar dr. Hafid Algristian, SpKJ, seorang psikiater yang menjadi Ketua 1 Green Crescent Indonesia, sebuah organisasi yang bergerak di bidang advokasi dan pencegahan adiksi, .

Dokter Hafid mengatakan, rokok bukan sebuah candu atau adiksi yang bila tidak merokok akan menyebabkan sakau. Menurutnya, sakau hanya ada bagi pecandu narkoba yang ditandai dengan tubuh menggigil, mata memerah dan mendadak takut dengan cahaya. Sementara bila seseorang tidak merokok, dampaknya tidak akan separah itu (sakau).

“Paling buruk mereka hanya tampak gelisah, itu saja. Sekali lagi, rokok tidak memberikan candu,” ujar penulis buku ‘Lebih Dekat dengan Skizofrenia’ tersebut.

Menurutnya, para perokok berat tak bisa berhenti dari rokok bukanlah karena adiksi, melainkan karena mengalami ‘obsesif kompulsif’.

Yakni keadaan tanpa sadar terus mengulang hal yang sama agar pikiran menjadi tenang. Contohnya, mengecek pintu berulang kali untuk memastikan bahwa pintu telah dalam keadaan terkunci sebagai respon terhadap ketakutannya. Dalam kata lain, pengulangan tersebut dilakukan agar perasaannya tenang.

Begitu pula dengan rokok, zat dari rokok yang masuk ke otak diyakini oleh perokok sebagai bentuk stress release (pelepasan stress).

“Tidak ada ceritanya merokok karena dipaksa, karena semua orang merokok dengan sadar,” pungkas dr. Hafid.

Menurutnya, sifat tak bisa lepas dari rokok disebabkan karena tiga hal, pertama, diakui (dibenarkan) temannya bahwa rokok memang senjata ampuh sebagai pelepasan stress. Kedua, dopamine meningkat. Ketiga, puas karena berhasil merokok di lingkungan sekitar.

“Apalagi mereka yang merokok secara sembunyi-sembunyi, bila berhasil merokok tanpa ketahuan, puas sudah perasaannya,” ujarnya.

Berhenti Merokok Harus Dipaksa

Oleh karenanya para perokok wajib dikumpulkan dengan lingkungan anti rokok agar tidak ada lagi pembenaran bahwa rokok adalah senjata ampuh pelepasan stress. Selama perokok berat masih berada di lingkungan sesama perokok, kata dr. Hafid, maka akan sulit untuk berhenti merokok.

“Kita (yang membantu kawan untuk berhenti dari rokok-pen) bisa dianggap galak bila menasehati perokok yang masih suka bergaul dengan lingkungan perokok,” imbuh psikiater yang bekerja di RSI Surabaya ini.

Untuk berhenti dari rokok, seseorang harus ‘dipaksa’. Sebab perilaku merokok bisa berhenti jika ada keadaan yang memaksa seseorang untuk tidak merokok. Berada di sebuah seminar berjam-jam misalnya.

“Seseorang, bahkan perokok berat yang biasa menghabiskan banyak rokok dalam sehari sekalipun bisa saja kok tidak merokok ketika ada di acara yang melarangnya untuk merokok, bahkan dia sendiri tidak percaya bisa melakukan itu, dan ini benar terjadi,” pungkasnya.

Ia kemudian bercerita pengalamannya saat bersama temannya perokok berat, yang ia bisa menghentikan kegiatan merokoknya selama 7 hari saat mengikuti kegiatan yang membuatnya tidak memungkinkan untuk merokok. “Padahal, biasanya, minimal satu pak sehari, ternyata bisa selama semingg tidak merokok,” ujarnya sambal tertawa.(Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here