Mukisi.com-Workshop and Training  on Hospital Spiritual Care Service telah sukses digelar pada Selasa (11/12) dan Kamis (13/12) lalu. Dua pembicara sekaligus praktisi dari luar negeri dihadirkan dalam acara tersebut. Mereka adalah Kamal Abu-Shamsieh dan Taqwa Surapati. Workshop ini membahas secara mendalam soal bimbingan rohani yang dilakukan di dalam rumah sakit.

Workshop tersebut diselenggarakan oleh Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi). Dan Mukisi, bekerja sama dengan RSI Sultan Agung Semarang, RSI Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, RSI Sari Asih Ar-Rahmah, dan IMANI Consulting.

Bertempat di dua rumah sakit Islam, yakni RS UIN Syarif Hidayatullah dan RS Sari Asih Ar-Rahmah. Dalam workshop ini juga turut mengundang pembicara dari luar negeri dan diikuti oleh berbagai macam rumah sakit baik swasta maupun daerah.

“Workshop kemarin juga datang pihak dari RSCM, yang mana RS tersebut menjadi rujukan nasional seluruh RS di Indonesia,” kata Yuli Setiawan, selaku panitia acara tersebut.

Latar belakang diadakannya workshop ini adalah untuk meningkatkan kompetensi seluruh elemen rumah sakit dalam bimbingan rohani untuk pasien dan keluarga. Karena, selama ini belum ada panduan ataupun standar untuk bimbingan rohani tersebut.

“Dalam Hak Pasien dan Keluarga di Rumah Sakit hanya dijelaskan bahwa pasien dan keluarganya berhak mendapat bimbingan rohani dari rumah sakit, tanpa ada standar atau panduan yang jelas,” tegasnya.

Oleh sebab itu, dengan adanya workshop ini berharap dapat membuka paradigma para pembimbing rohani di rumah sakit. Agar, pasien dan keluarganya mendapat bimbingan rohani yang menyeluruh dan komprehensif. Bimbingan rohani yang menyeluruh dan komprehensif meliputi spiritual, psikologis, dan sosial.

Kemudian, dalam acara tersebut diisi oleh dua pembicara sekaligus praktisi dari luar negeri. Mereka adalah Kamal Abu-Shamsieh dan Taqwa Surapati. Mengundang mereka sebagai pembicara bukan tanpa alasan. Para pembicara tersebut memiliki metodologi yang berbeda dari Indonesia.

“Di Amerika, para praktisi tersebut melakukan bimbingan rohani kepada pasien dan keluarganya secara komprehensif dan menyeluruh,” jelas Yuli.

Karena hal itulah mereka diundang untuk membahas metodologi tersebut. Dalam workshop tersebut terdiri dari tiga materi utama, yakni materi untuk fundamental, teknis, dan praktik langsung. Adanya praktik ini juga menjadi alasan rumah sakit dipilih menjadi tempat untuk berlangsungnya workshop ini.

Setelah teori dan teknis, selanjutnya mereka melakukan role play untuk materi yang telah diajarkan. “Kami mengundang perwakilan sejumlah tiga pasien di auditorium untuk melakukan role play,” imbuhnya.

Kemudian, barulah mereka dibagi per tim untuk melakukan visit secara langsung kepada pasien. Dalam tim tersebut tidak hanya terdiri dari para pembimbing rohani. Dikatakan olehnya dalam satu tim tak hanya terdiri dari para pembimbing rohani.

“Ada dokter dan perawat dalam satu tim, mereka praktik dan visit pasien secara langsung,” papar pria yang juga menjadi panitia dalam workshop tersebut.

Diselenggarakannya workshop tersebut dengan harapan rumah sakit dan para pembimbing rohaninya mengalami peningkatan. “Kami berharap, RS di Indonesia memiliki SDM pembimbing rohani yang kompeten,” tutupnya. Kompeten dengan membimbing ruhaniyah pasien dan keluarga secara komprehensif dan menyeluruh.(ipw)

2 KOMENTAR

  1. Semoga bertambahnya khazanah keilmuan dalam aplikasi Bimbingan Rohani rumah sakit di Indonesia baik praktisi maupun akademisi.

    Harapan ke depan adanya program Pendidikan tinggi formil dan Perkumpulan/BIMROH Spiritual Care di Indonesia. Aamien … Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here