Mukisi.com-Meski sudah tiada, perawatan bagi jenazah bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main. Islam sudah mengaturnya dengan sangat baik. Islam tetap memuliakan saudara meski dalam kondisi tak bernyawa. Rumah sakit syariah paham betul dan tak abai soal ini.

Allah subhanahu wa ta’ala dalam menciptakan segala hal di alam semesta sudah lengkap dengan garis umurnya masing-masing. Baik itu hewan, tumbuhan bahkan manusia sekalipun. Jika sudah diujung umur, ruh tinggalkan jasad sesuai perintahNya kepada Sang Pencabut Nyawa. Meski demikian, sebagai sesama manusia harus saling memuliakan, dalam kondisi jenazah sekalipun.

Perihal perawatan jenazah juga menjadi perhatian bagi rumah sakit syariah. Dikatakan oleh Samsudin Salim S.Ag., M.Ag, selaku Manajer Bidang Pelayanan Islam (BPI) RS Islam Sultan Agung Semarang bahwa  rumah sakit syariah juga melaksanakan mekanisme perawatan jenazah sesuai syariat. Perawatan jenazah ini meliputi mensucikan, mengkafani, menshalati hingga menguburkan.

“Secara institusional, RS Syariah menyerahkan sepenuhnya perawatan jenazah kepada keluarga,” jelasnya. Dalam kasus pihak keluarga membutuhkan bantuan RS, barulah RS melakukan perawatan jenazah dari pensucian hingga pemakaman. Di RSISA sendiri sudah memiliki pelayanan lengkap jenazah yang dinamakan Al-Husna.

Dalam hal perawatan jenazah tersebut dilakukan oleh petugas pemulasaraan jenazah di bawah kendali Bagian Kerohanian Islam RS. Perbedaan pelayanan terdapat pada bagaimana jalur berobat pasien di dalam RS.

“Jika itu pasien BPJS, maka pelayanan kami sebatas pensucian jenazah. Karena, ini sesuai dengan ketentuan BPJS,” papar pria yang juga anggota divisi sertifikasi syariah Mukisi (Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia).

Sementara, jika pasien tersebut adalah pasien regular maka RS mengenakan beberapa tambahan biaya untuk perawatan jenazah lengkap hingga pemakaman.

Berkaca dari SSPBK (Standar Syariah Pelayanan dan Bimbingan Kerohanian) untuk soal perawatan jenazah hingga pemakaman, RS syariah tidak diwajibkan memiliki pelayanan tersebut. Hanya saja soal jenazah, lebih difokuskan kepada pemulasaraannya.

Lalu, RS syariah pun juga tak membedakan penanganan kepada pasien non muslim. Diungkapkan oleh Samsudin bahwa pihak RS tetap memuliakan jenazah. Jika keluarga menghendaki disucikan maka petugas akan melaksanakan sesuai prosedur. Meski demikian, RS juga berhak membatasi hal-hal yang terkait dengan ritual keyakinan mereka.

Kemudian, lain halnya jika jenazah tersebut tidak beridentitas. Sesuai standar dikatakannya bahwa jenazah akan dikirim ke RS pemerintah yang memiliki fasilitas lebih lengkap seperti tempat pendingin mayat, otopsi jenazah, dan lain-lain. Hal jenazah benar-benar menjadi perhatian RS. Ini mereka lakukan dengan tujuan untuk memuliakan saudara-saudara sesama manusia meski tak bernyawa.

Bahkan, ada beberapa kasus ketika keluarga tak kunjung menjemput jenazah. RS syariah terus berusaha mengomunikasikan perihal penanganan jenazah kepada keluarga. “Pihak RS akan terus mengupayakan agar jenazah segera diambil, bahkan jika perlu didatangi rumah tinggalnya dan disampaikan kepada ketua RT setempat,” papar Samsudin. Jika keluarga sudah datang sedangkan jenazah sudah dikirim ke RS pemerintah, maka pihak RS syariah yang menangani jenazah tersebut dengan rela mengantar pihak keluarga ke rumah sakit dimana jenazah tersebut disimpan.

“Ada risiko hukum jika kemudian dimakamkan. Karena itu, jika mendapati hal demikian, kami bawa jenazah ke RS pemerintah yang memiliki fasilitas penyimpanan jenazah,” tutupnya. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here