Mukisi.com– Untuk memacu gairah rumah sakit syariah di Jawa Timur, Rabu dan Kamis (28-19/11) lalu, Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia-Jawa Timur (Mukisi-Jatim) telah menyelenggarakan workshop tentang Rumah Sakit (RS) Syariah yang bertempat di Harris Hotel and Conventions Malang. Workshop terbesar yang pernah digelar.

“Workshop RS Syariah di Malang kemarin adalah workshop terbesar yang selama ini diadakan oleh Mukisi Jawa Timur,” kata dr. Sagiran, Sp.B, M.Kes., pembicara dalam acara tersebut.

Terdapat 60 peserta yang hadir dalam acara tersebut yang berasal dari 18 RS, baik RS anggota Mukisi maupun RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah). Beberapa di antara RSUD tersebut adalah RSUD Bangkalan, Trenggalek dan Probolinggo yang ketiganya selama ini memang  tertarik pada syariah.

“Mereka sangat antusias karena menjadi jejaring RS Pendidikan Universitas Islam Malang,” imbuh dokter bedah dari RS Nur Hidayah Bantul ini.

Menurutnya, beberapa RSUD yang hadir dalam acara tersebut perlu beradaptasi dengan standar-standar RS Syariah. “Kalau sesama RSI barangkali tidak begitu asing dengan standar-standar syariah. Tetapi karena ini ada beberapa yang dari RSUD, maka tentu ada beberapa tanggapan, pertanyaan, dan merasa agak berat,” jelasnya.

Penyesuaian tersebut, lanjutnya, telah teratasi dengan baik. Sebab penyelenggara acara telah memberikan panduan yang mampu menjelaskan kepada para peserta. “Alhamdulillah diskusi berjalan lancar karena panduan dari penyelenggara Mukisi Pusat maupun daerah. Sehingga semua pertanyan bisa dijelaskan dan diterima oleh para peserta yang bertanya,” jelas pria yang juga menjadi Ketua Mukisi Yogyakarta ini.

Suasana yang serius namun santai berhasil membuat diskusi pada workshop tersebut berjalan dengan baik. “Pada akhirnya kami lebih banyak membuka ruang diskusi dan tanya jawab karena memang memahamkan dari nol (awal). Tapi Alhamdulillah mereka semua menjadi bersemangat,” imbuhnya.

Salah satu topik yang sangat diminati oleh para peserta adalah tentang standar pelayanan minimal syariah dan mutu wajib syariah. Banyak dari peserta yang bertanya kiat agar bisa melaksanakannya dengan baik, terutama bagi RSUD.

Kemenag Dukung Pelayanan Rohani di RS Syariah sebagai Standar

Selain itu, ada juga yang menanyakan tentang pelayanan pada pasien non muslim, serta  tentang tenaga dokter atau paramedis yang juga non muslim. “Wajar saja, karena RSUD tentu tidak menutup kemungkinan memiliki beberapa tenaga medis yang non muslim. Namun kami menjawab bahwa standar syariah di RS Syariah tidak akan bermasalah dengan pasien non muslim, karena tetap pelayanan rohani dan spiritual kepada non muslim tetap ada. Tentu dengan kerjasama pihak lain yang memberikan dukungan kepada kami. Dari Kemenag (Kementerian Agama) contohnya, mereka menyediakan rohaniawan bagi RS Syariah,” jelasnya.

Ia pun mencontohkan sebagai dokter bedah, ia kerap menuntun doa kepada pasien sebelum operas dilakukan. Bila pasien tersebut non muslim, maka dr. Sagiran membimbing pasien tersebut berdoa sesuai agamanya, dan dr. Sagiran berdoa sebagaimana ajaran Islam.

Diakui olehnya, dengan workshop tersebut para peserta dengan mudah dapat memahami standar-standar syariah, karena publikasi mukisi yang sudah cukup dikenal oleh khalayak sejak  beberapa tahun terakhir.

“Dan ketika workshop ini diadakan, mereka pun sudah menerima terms of reference (TOR) yang cukup lengkap, sehingga tidak sulit memahami seluruh standar-standar yang ada,” imbuhnya.

Dengan tekad memperjuangkan kesehatan Islam di Nusantara, Mukisi berkeinginan kuat untuk mendorong para peserta untuk secepatnya mendaftarkan diri menjalani sertifikasi syariah.

“Bahkan dari 18 RS tersebut jika semuanya betul-betul bisa di-push,  maka tentu target mukisi mencapai 50 RS syariah di tahun ini akan mudah dicapai. Nantinya juga akan dianugrahkan pada IHEX  (International Islamic Healthcare Conference and Expo) 2019. Semoga lancar kedepannya. Overall workshop RS syariah di Malang kemarin cukup sukses,” tutupnya. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here