Mukisi.com-Dalam kondisi apapun, manusia tetap wajib melaksanakan shalat, termasuk saat sakit parah sekalipun. Namun ada keringanan tertentu di dalamnya. Keringanannya disesuaikan dengan kemampuan pasien. Lalu bagaimana dengan kiblat? Haruskah seorang yang sakit tetap harus menghadap kiblat?

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul. Menurut pemaparannya dalam rumaysho.com, jika tidak mampu mengerjakan shalat sambil duduk, boleh shalat sambil tidur menyamping (yang paling utama tidur menyamping pada sisi kanan) dan badan mengarah ke arah kiblat. Namun jika tidak mampu diarahkan ke kiblat, boleh shalat ke arah mana saja. Jika memang terpaksa seperti ini, shalatnya tidak perlu diulangi.

Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda kepada Umran bin al-Hushain: “Apabila engkau tidak mampu maka shalatlah dalam keadaan miring.”

Ini adalah posisi yang ditentukan oleh syar’i, posisi ini memiliki kelebihan dibanding terlentang: Wajah orang yang sakit menghadap kiblat, adapun posisi terlentang maka wajah si orang sakit menghadap ke langit. (Asy-Syarh al-Mumti’ ala Zad al-Mustaqni’ 4/329-330)

Sebab bagaimanapun dan separah apapun sakit itu, seorang muslim tetap diwajibkan shalat selagi berakal. Artinya, kewajiban shalat tidak gugur atas diri pasien, baik itu yang baru menjalani operasi bedah, selagi dia berakal, meski dia tidak mampu beranjak dari ranjangnya. Dia wajib menunaikan rukun shalat semampunya.

Di sisi lain, Ustadz Ammi Nur Baits, lulusan Universitas Islam Madinah jurusan Fikih mengatakan dalam konsultasisyariah.com, bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sah shalat. Hal ini sebagaimana firman Allah, “Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Maka menghadap kiblat adalah syarat sah shalat jika mampu dilakukan, baik bagi orang sakit maupun yang lainnya.

“Orang sakit yang terbaring di ranjang, dia tetap wajib menghadap kiblat. Dia lakukan sendiri jika mampu atau dibantu orang lain. Jika dia tidak mampu menghadap kiblat, dan tidak ada yang bisa membantunya untuk menghadapkannya ke arah kiblat, sementara dia khawatir waktu shalat akan habis, maka dia boleh shalat sesuai keadaannya (tidak menghadap kiblat),” jelasnya.

Namun jika posisi ranjang memungkinkan untuk diubah, maka harus diubah sehingga menghadap kiblat. Sebagaimana yang ditulis oleh tim salamdakwah.com, “Dia wajib menghadap kiblat saat shalat di atas ranjangnya. Jika dia tidak berdaya menggeser ranjang menghadap kiblat, dia harus minta perawat agar menghadapkan ranjangnya ke arah kiblat, berdasarkan firman Allah Ta’ala,”.

RS Syariah Selalu Membimbing Shalat Pasien

Di Rumah Sakit (RS) Syariah, pasien dan keluarganya tak perlu khawatir untuk urusan shalat pasien. Sebab petugas akan selalu mengingatkan pasien untuk shalat. “Ini menjadi dasar bagaimana petugas rumah sakit melayani mereka, terutama membantu kelancaran shalat pasien. Karena justru di saat sakit itulah, pasien sebaiknya lebih meningkatkan kedekatannya kepada Yang maha Pemberi kesembuhan,” ujar Miftachul Izah, SE, M.Kes, Wakil Sekretaris Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi).

Oleh karenanya, bagaimanapun keadaannya shalat tetap wajib ditunaikan sebagai bentuk syukur seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika tidak mampu berdiri, berbaring. Jika tidak mampu menghadap kiblat, maka badan wajib diupayakan menghadap kiblat. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here