Mukisi.com-Kemajuan bidang medis dunia sampai hari ini tak lepas dari peran beberapa tokoh besar pada masa lampau. Islam nyatanya memiliki tokoh besar di bidang medis yang lebih dahulu dikenal daripada Dunia Barat.

Bidang medis dunia sampai hari ini terus melakukan berbagai macam inovasi. Hal demikian mereka lakukan untuk kepentingan bersama, untuk kesehatan masyarakat. Mulai inovasi dari obat-obatan hingga alat-alat kesehatan. Tapi, inovasi-inovasi yang mereka lakukan tak lepas dari peran berbagai ahli medis masa lampau yang telah menanamkan ilmu-ilmu dasar kesehatan.

Bukan hanya Dunia Barat yang memiliki tokoh medis terkenal pada masa lampau, Islam dari zaman Rasulullah hingga para khalifah juga memiliki tokoh-tokoh medis yang terkenal. Berikut adalah beberapa tokoh besar di bidang medis yang dimiliki Islam :

‘Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha

‘Aisyah adalah salah satu tokoh pada zaman Rasulullah yang kecerdasannya tidak diragukan lagi. Sudah banyak para sahabat yang mengakui kecerdasan ‘Aisyah.

Seperti kata Az Zuhri dalam Si’yar A’lam An Nubala’, “Apabila ilmu ‘Aisyah dikumpulkan dengan ilmu seluruh wanita lain, maka ilmu ‘Aisyah lebih utama.”

Bukan hanya Az Zuhri yang berkata demikian, Atha’ pun dalam Si’yar A’lam An Nubala’ juga mengakui kecerdasan ‘Aisyah dan menyematkan namanya sebagai yang paling faqih karena pendapat-pendapat yang ia berikan selalu berkaitan dengan kemaslahatan umum.

Yang lebih membuat terkejut adalah ia juga mahir dalam ilmu medis. Dan ia melakukannya hanya dengan mendengar dan menyaksikan tanpa diajarkan secara langsung. Diceritakan dalam Hilyatul Auliya’ ketika Hisyam Bin Urwah bertanya pada ‘Aisyah. “Wahai ibu (ummul mukminin), saya tidak heran atau takjub engkau pintar ilmu fiqh karena engkau adalah istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anak Abu Bakar. Saya juga tidak heran atau takjub engkau pintar ilmu sya’ir dan sejarah manusia (Arab) karena engkau adalah anak Abu Bakar dan Abu bakar adalah manusia yang paling pandai (mengenai sya’ir dan sejarah Arab). Akan tetapi saya heran atau takjub engkau pintar ilmu kedokteran, bagaimana dan darimana engkau mempelajarinya?

Kemudian ia memegang kedua pundakku dan berkata,

Setiap utusan kabilah yang datang dari berbagai penjuru yang datang untuk mengobati sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada akhir hayatnya, maka aku mengamati/pelajari dari mereka dan aku mengobati dengan ilmu dari sana.”

Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma

Pengalamannya dalam ilmu medis lebih ke dalam kebidanan. Kisahnya dimulai saat beliau ia menemani sang suami yaitu, khalifah Umar untuk melakukan ‘ronda’ malam melihat keadaan rakyat kala itu. Berikut adalah kisah Ummu Kultsum disadur dari muslimafiyah.com :

Suatu ketika Umar keluar pada malam hari seperti biasanya untuk mengawasi rakyatnya (inilah keadaan setiap pemimpin yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya dalam naungan daulah Islamiyah), beliau melewati suatu desa di Madinah. Tiba-tiba, beliau mendengar suara rintihan seorang wanita yang bersumber dari dalam sebuah gubuk. Di depan pintu, ada seorang laki-laki yang sedang duduk.

Umar mengucapkan salam kepadanya dan bertanya tentang apa yang terjadi. Laki-laki tersebut berkata bahwa dia adalah seorang Badui yang ingin mendapatkan kemurahan Amirul Mukminin. Umar bertanya tentang wanita di dalam gubuk yang beliau dengar rintihannya. Laki-laki tersebut tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah Amirul Mukminin, maka dia menjawab, “Pergilah Anda! Semoga Allah merahmati Anda sehingga mendapatkan hal yang Anda cari, dan janganlah Anda bertanya tentang sesuatu yang tak ada gunanya bagi Anda.”

Umar kembali mengulang-ulang pertanyaannya agar dia dapat membantu kesulitannya, jika mungkin. Laki-laki tersebut menjawab, “Dia adalah istriku yang hendak melahirkan dan tak ada seorang pun yang dapat membantunya.” Umar pergi meninggalkan laki-laki tersebut dan kembali ke rumah dengan segera.

Beliau masuk menemui istrinya, yakni Ummu Kultsumdan berkata, “Apakah kamu ingin mendapatkan pahala yang akan Allah limpahkan kepadamu?” Beliau menjawab dalam keadaan penuh antusias dan berbahagia dengan kabar gembira tersebut yang mana beliau merasa mendapatkan kehormatan karenanya, “Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut, wahai Umar?” Maka Umar memberitahukan kejadian yang beliau temui, kemudian Ummu Kultsum segera bangkit dan mengambil peralatan untuk membantu melahirkan dan kebutuhan bagi bayi, sedangkan Amirul Mukminin membawa kuali yang di dalamnya ada mentega dan makanan. Beliau berangkat bersama istrinya hingga sampai ke gubuk tersebut.

Ummu Kultsum masuk ke dalam gubuk dan membantu ibu yang hendak melahirkan, dan beliau bekerja dengan semangat seorang bidan. Sementara itu, Amirul Mukminin duduk-duduk bersama laki-laki tersebut di luar sambil memasak makanan yang beliau bawa. Tatkala istri laki-laki tadi melahirkan anaknya, Ummu Kultsum secara spontan berteriak dari dalam rumah, “Beritakan kabar gembira kepada temanmu, wahai Amirul Mukminin, bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya seorang anak laki-laki.” Hal itu membuat orang Badui tersebut terperanjat karena ternyata orang di sampingnya yang sedang memasak dan meniup api adalah Amirul Mukminin.

Dari dua tokoh tersebut, dapat diketahui bahwa Islam juga mengenal bidang medis dari zaman dahulu. Bukan hanya Rufaidah sebagai perawat pertama, namun ‘Aisyah dan Ummu Kultsum juga dua tokoh besar yang sangat berperan dalam bidang medis kala itu. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here