Mukisi.com-Shalat Jumat adalah shalat wajib bagi pria muslim yang tidak memiliki udzur. Barang siapa yang meninggalkannya, ia terjermus dalam dosa besar sebagaimana hadits-hadits yang ada. Lalu bagaimana jika sedang dalam keadaan sakit? Bagaimana pula dengan dokternya? Bolehkah mereka meninggalkan shalat Jumat?

Rasulullah bersabda, “Shalat Jumat itu wajib bagi setiap muslim kecuali empat orang yaitu budak yang dimiliki, perempuan, anak kecil, dan orang sakit” (H.R. Abu Dawud).

Seperti yang dilansir dalam laman nu.or.id,  penulis ‘Aun al-Ma’bud Syarhu Sunani Abi Dawud telah menjelaskan maksud orang sakit yang tidak wajib shalat Jumat dalam hadits tersebut. Dalam penjelasannya, orang sakit yang tidak berkewajiban shalat Jumat itu adalah ketika ia hadir untuk shalat malah menimbulkan masyaqqah (kondisi amat sulit atau memberatkan) bagi dirinya. Ini artinya tidak semua orang sakit tidak wajib shalat Jumat. Tetapi hanya orang-orang yang memang masuk kategori sakit berat. Sebab kalau ikut shalat Jumat malah menambah penderitaannya.

Meskipun kewajiban shalat Jumat menjadi gugur karena adanya masyaqqah, kewajiban shalat Dhuhur tetap berlaku karena itu merupakan kewajibannya sebagai hamba Allah sepanjang hidup. Shalat dhuhur dilaksanakan sebagaimana biasanya. Dalam praktiknya, bila ada kendala lantaran sakit gerakan dan bacaan disesuaikan menurut kemampuan orang yang melakukannya.

Hal ini sebagaimana keterangan dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Siapa yang mendapatkan satu rakaat (bersama imam Jumat) maka dia mendapatkan Jumatan. Dan siapa yang tidak mendapatkan rakaat imam maka dia harus shalat zuhur.” (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf 5477).

Dokter Boleh Tidak Shalat Jumat Ketika Menangani Pasien Darurat

Ada beberapa sebab yang membolehkan seseorang meninggalkan Jumatan. Dalam kitab al-Asybah wa an-Nadzair, as-Suyuthi – ulama Syafiiyah – menyebutkan beberapa udzur yang membolehkan seseorang tidak shalat jamaah dan tidak jumaatan. Diantara udzur yang beliau sebutkan adalah menangani orang sakit (al-Asybah wa an-Nadzair, hlm. 439).

Namun hal ini berlaku, jika tidak ada orang lain yang bisa menggantikan. Sebagaimana yang dikatakan ustadz Ammi Nur Baits, ustadz yang merupakan alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh, bahwa jika ada orang lain yang bisa menggantikan, misalnya ada perawat wanita atau dokter wanita yang tidak wajib Jumatan, maka wajib digantikan mereka (dokter) yang tidak wajib Jumatan. Hal ini sebagaimana yang ia tuliskan dalam konsultasisyariah.com.

Kemudian Ustadz yang juga menjadi dewan Pembina Media Dakwah Yufid TV tersebut menyertakan fatwa Lajnah Daimah yang mengatakan bolehnya dokter tidak shalat Jumat dan diganti dengan shalat dhuhur biasa ketika sedang menangani pasien.

“Dokter tersebut sedang melakukan tugas besar yang manfaatnya besar bagi kaum muslimin. Yang jika dia tinggal untuk Jumatan, bisa mengancam bahaya besar. Karena itu, tidak masalah baginya untuk meninggalkan Jumatan. Namun dia wajib shalat dzuhur di waktunya. Dan selama memungkinkan untuk mengerjakan dzuhur secara berjamaah, wajib untuk dia lakukan. Berdasarkan firman Allah (yang artinya), “Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” Jika ada beberapa karyawan yang mendapat tugas bersamanya, maka mereka semua wajib shalat dzuhur berjamaah.” (Fatwa Lajnah Daimah, 8/190). (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here