Mukisi.com-Pilihan hidup menjadi vegetarian menuai perdebatan dewasa ini, terutama terkait dengan boleh tidaknya seorang Muslim menjalaninya. Hal ini karena dalam sejarahnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalaninya.

Menurut dr. Tania Savitri, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, seorang vegetarian adalah mereka yang menjalani pola makan dengan hanya mengonsumsi makanan dari tumbuh-tumbuhan seperti gandum, kacang polong, biji-bijian, kacang-kacangan, jamur, ragi, buah-buahan, dan sayuran. Menurutnya, menjadi vegetarian bisa mengurangi resiko terpapar penyakit kanker prostat dan berat badan akan menjadi lebih terkendali.

Namun di samping membeberkan manfaatnya, dr. Tania juga menjelaskan adanya konsekuensi kesehatan dari menjadi vegetarian. “Meskipun secara umum pola makan vegetarian adalah pilihan yang bijak bagi kesehatan, Anda juga tetap harus memikirkan beberapa konsekuensi tidak mengonsumsi makanan hewani. Salah satunya adalah kekurangan beragam zat gizi penting yang memang hanya bisa ditemukan pada daging, atau jumlahnya sangat sedikit pada sumber makanan nabati,” jelasnya dalam laman hellosehat.

Menanggapi hal ini, seorang ustadz yang juga merupakan dokter lulusan Kedokteran UGM, dr. Raehanul Bahraen, ia menjelaskan hukum vegetarian dalam pandangan Islam. Menurutnya, ternyata vegetarian kurang baik secara medis dan agama pun melarangnya.

“Jika niatnya beribadah maka ini adalah sesuatu yang tidak ada dalilnya dalam ibadah (bid’ah). Jika tidak ada niat ibadah, niatnya hanya sekedar melarang diri maka ia telah mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan juga jika tidak baik untuk kesehatan, maka ini juga dilarang oleh agama,” penjelasan dr. Raehanul dalam muslim.or.id.

Menyerupai Pemuka Agama Lain

Menjadi vegetarian, lanjutnya, tidak ada dalam ajaran Islam beribadah dengan cara tidak makan daging, bahkan ini bisa menjadi tasyabbuh menyerupai ibadah suatu kaum yang ibadah mereka mengharamkan makan daging hewan menurut agama mereka.

Dalam laman muslimah.or.id yang berupaya menukil penjelasan dari Ustadz Aris Munandar, M.A, ustadz yang juga merupakan lulusan magister Fikih Universitas Muhammadiyah Surakarta pun juga mengungkapkan hukum menjadi vegetarian. Dikutip dari laman tersebut, diketahui bahwa para biksu Budha adalah orang yang sangat teguh untuk tidak memakan daging. Mereka hanya mau makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Bahkan Rahenaul kembali menjelaskan, bahwa menjadi vegetarian perlu kehati-hatian ekstra sebab bisa jadi merupakan bentuk pengingkaran nikmat Allah. Daging yang bergizi dan lezat dimakan, malah diharamkan oleh diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman, “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Al-Maidah: 88).

Dengan bekal pendidikan kedokteran, ia pun berupaya menjelaskan dampak negatif dari pilihan hidup satu ini. “Vegetarian bisa berbahaya bagi kesehatan,” jelasnya.

Sebab vitamin-vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh menjadi terabaikan. “Vegetarian akan kekurangan vitamin B 12 yang hanya ada pada hewan, padahal vitamin ini cukup penting terutama ketika hamil dan keadaan lainnya. Selain itu ada juga zat gizi lainna yang cukup penting dan kandungannya tinggi pada hewan. Jika memang berbahaya maka ini dilarang oleh agama,” imbuhnya.

Vegetarian dari Kacamata MUI

Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Lukmanul Hakim pun tidak menganjurkan umat Muslim mengikuti gaya hidup satu ini. Menurut dia, ada beberapa alasan orang memilih menu vegetarian. Salah satunya adalah masalah keyakinan dari penganut agama tertentu. Inilah yang kemudian harus diwaspadai oleh muslim.

“Pertama alasan keyakinan, yang datang dari para penganut agama tertentu yang melarang pemeluknya mengkonsumsi hewan. Kedua, alasan kesehatan,  semakin banyak orang yang mengalami gangguan obesitas atau penyakit lainnya yang disebabkan oleh menu hewani,” papar Lukmanul dalam laman republika.

Bahkan ia menepis anggapan bahwa menjadi vegetarian adalah sama dengan halal karena produk nabati cenderung halal daripada hewani.

Sebab dari temuan yang pernah didapatkan di sebuah perusahaan makanan vegetarian dari Taiwan,  diketahui bahwa flavor yang digunakannya ternyata menggunakan bahan-bahan turunan hewani. Bahan tersebut memang tidak langsung dari hewan, tetapi menggunakan produk-produk mikrobial yang medianya dari bahan hewani.

“Ternyata media yang digunakannya ada yang berasal dari bahan hewani yang tidak halal. Jadi jangan langsung menganggap bahwa vegetarian sama dengan, halal. Kalau memang tidak ada alternatif lain, mungkin memang lebih baik memilih vegetarian. Tetapi tetap hati-hati dan waspada” tegasnya. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here