Mukisi.com-Saat sakit, manusia harus mengoptimalkan segala cara untuk sembuh. Karena, ini adalah bentuk ikhtiar melawan sakit sekaligus ikhtiar untuk melewati ujianNya. Belakangan ini stem cell menjadi cara ampuh mengobati beberapa penyakit. Lalu, bagaimanakah pandangan Islam terhadap persoalan ini ? mari kita simak ulasan di bawah ini.

Pengobatan stem cell atau yang biasa disebut sel punca adalah metode pengobatan yang bisa menggantikan sel yang rusak atau mati. Metode dalam stem cell ini diterangkan oleh dr. Raehanul Bahraen seorang Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mataram biasanya menggunakan plasenta bayi ataupun sel darah dalam plasenta bayi.

Dalam pengobatan stem cell dari plasenta bayi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan bahwa pengobatan dengan metode tersebut diperbolehkan asal memang benar-benar telah terbukti dapat menyembuhkan. Ia mengatakan demikian karena stem cell bisa saja diambil dari bagian tubuh manusia hidup, yang mana bagian tersebut bisa dikatakan adalah mayat. Dan ia menegaskan bahwa mayat manusia hukumnya suci. Itulah alasan mengapa pengobatan stem cell diperbolehkan.

Kemudian, untuk pengobatan stem cell dengan bagian sel darah juga ada hukumnya tersendiri. Karena, di antara para ulama masih ada beberapa perselisihan tentang hukum darah itu sendiri, tergolong najis atau tidak.

Darah adalah najis jika dilihat dari penggalan Al Quran surat Al An’am: 145 berbunyi, “Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu adalah bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semuanya itu adalah kotor.’” Bahkan, kenajisan darah ini juga dinyatakan oleh Imam An Nawawi.

Jika bukti tersebut menyatakan bahwa darah adalah najis, berbeda dengan pernyataan dari Al Hasan Al Bashri rahimahullah. Ia berpendapat bahwa dahulu, kaum muslimin saat berperang dan kemudian shalat, mereka dalam keadaan terluka. Sementara itu Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin juga berpendapat bahwa hanya darah yang keluar dari dua lubang (qubul dan dubur) yang dapat membatalkan wudhu. Selain daripada itu, sama sekali tidak membatalkan wudhu.

Lalu, jika dilihat dari hukum asalnya maka secara umum darah diharamkan jika dimakan seperti disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah:173. Namun, menanggapi dari hal keharaman darah, pengobatan dengan memanfaatkan darah hanya diperbolehkan dalam kondisi khusus. Kondisi khusus tersebut seperti kata Ibnu ‘Abidin, “Boleh berobat dengan meminum kencing, darah, mengonsumsi mayat, jika memang diberitahu oleh dokter muslim yang terpercaya dan tidak didapatkan obat mubah lainnya.”

Di sisi lain, dalam rumah sakit syariah jika mereka menggunakan obat atau metode yang memanfaatkan kandungan yang tidak halal, mereka akan melakukan informed consent terlebih dahulu kepada para pasien.

Siti Aisyah Ismail, MARS selaku anggota divisi kerjasama internasional Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) mengatakan bahwa dalam hukum Islam mempertimbangkan beberapa situasi dan kondisi yang dapat diberi kelonggaran sebagai darurah atau rukhsah. “Maslahah dalam Islam dikategorikan kepada tiga hal, adh dhaurah (kebutuhan primer), al hajah (kebutuhan sekunder), dan at tahsiniyah (kebutuhan tersier),” jelasnya.

Dalam adh dhaurah itulah dibagi lima prinsip Maqashid Syariah yang berpaku dengan lima Qawa’id Fiqhiyyah utama, dimana salah satunya menggunakan prinsip Al Masyaqqah (kesulitan). Sebuah prinsip kesulitan membawa kemudahan, serta kebutuhan menghilangkan larangan. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here