Mukisi.com-Suap, bisa menyasar ke siapa saja. Tak harus orang tak punya, karena banyak juga terjadi di kalangan orang berada. Pun demikian dengan profesi, dari yang dianggap alit hingga yang elit, termasuk di kalangan medis. Lalu bagaimana Islam menjelaskan perkara ini?

Pada 2017 lalu, terjadi pelaporan kasus gratifikasi perusahaan farmasi kepada dokter yang berujung pada jalur hukum. Pasalnya, dikutip dari tempo.co, salah satu karyawan perusahaan farmasi tersebut melaporkan sang direktur kepada pihak yang berwajib. Menurutnya, terjadi gratifikasi antara oknum direktur tersebut dengan oknum dokter. Tujuan dari suap tersebut, agar obat yang diproduksi perusahaan dapat laku keras.

“Jadi dokter-dokter itu diberi uang awalan, yang kemudian harus menjual obat sesuai target yang diminta perusahaan,” tutur karyawan tersebut.

Dia  mencontohkan pemakaian infus untuk pasien rawat inap. Menurutnya, tidak semua pasien rawat inap di rumah sakit membutuhkan infus. “Tapi sekarang semua dikasih infus kan? Karena dokter ambil keuntungan dari situ,” imbuhnya.

Akibat gratifikasi itu, lanjutnya, obat-obatan yang dijual di pasaran jadi lebih mahal.

Perbedaan antara suap dan hadiah (secara murni) memang sangat tipis. Ustadz Ammi Nur Baits, Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh mengatakan dalam konsultasisyariah.com, bahwa Rasulullah memang menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah sebagai bentuk cinta dan kasih sayang terhadap saudaranya.

Ia menukil hadts nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Lakukanlah saling memberi hadiah, agar kalian saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, 594 dan dihasankan al-Albani).

Namun pemberian hadiah ini bisa jadi bukan dilandaskan atas dasar kasih sayang, tetapi tujuan komersil. Inilah yang kemudian disebut risywah atau suap. Padahal Allah melarang penyuap dan yang menerima suap.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh akan datang suatu zama di tengah manusia, dimana orang tidak lagi peduli terhadap harta yang dia ambil, apakah dari yang halal ataukah yang haram.” (HR. Bukhari 2083)

Dalam hal ini, Ustadz Ammi menjelaskan bahwa memang banyak kejadian gratifikasi, Ia mengatakannya sebagai bentuk suap. “Latar belakangnya karena komersil, ada harapan akan mendapat keuntungan yang lebih besar, hakekatnya bukan hadiah. Tapi suap dan harta khianat. Dan biasanya ini diberikan kepada para pejabat atau pihak yang bisa mempengaruhi orang lain untuk memberikan keuntungan baginya,” jelasnya.

Hadiah untuk Dokter, Apakah Bentuk Suap?

Berangkat dari keterangan di atas, para ulama memperingatkan untuk hadiah atau imbalan atau balas jasa yang diberikan medical representative kepada para dokter, dengan harapan dia bisa meresepkan obat yang menjadi produknya. Sebagian ada yang melarang secara mutlak, dan ada juga yang memberikan rincian.

Di antara yang memfatwakan larangan secara mutlak adalah Lajnah Daimah. Mereka menilai dengan tegas bahwa itu termasuk risywah (suap).

Dalam salah satu fatwanya, Lajnah Daimah menyatakan,

“Tidak boleh bagi dokter untuk menerima hadiah dari perusahaan obat. Karena ini termasuk sogok yang haram, meskipun orang menyebutnya hadiah atau nama lainnya. karena sebatas nama tidak mengubah hakekat.” (Fatwa Lajnah Daimah, 23/570)

Di sisi lain, Ustadz Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST, Ustadz yang juga menjadi pegawai Dirjen HAKI, Departemen Kehakiman Indonesia mengatakan dalam muslim.or.id, pemberian fee dari perusahaan farmasi kepada dokter tidaklah dianggap risywah atau suap bila pasien yang bersangkutan memang membutuhkannya.

“Tidaklah mengapa apabila memang obat tersebut lebih bermanfaat dan lebih baik daripada obat yang lain. Hal itu tidak mengandung unsur penipuan dan pengelabuan kepada pasien. Namun jika ternyata kondisi riil berkata sebaliknya, maka praktik di atas termasuk dalam perbuatan risywah yang haram, sehingga tidak boleh menyerahkan, mengambil dan menjadi perantara dalam praktik risywah tersebut,” jelasnya. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here