Mukisi.com-Setelah Rumah Sakit (RS) milik swasta dan pemerintah berbondong-bondong mendaftar sertifikasi syariah. Kini RS bertaraf Internasional pun juga tertarik untuk menjadi RS Syariah. Senin (5/11) lalu, RS JIH (Jogja International Hospital) menjalani Pra Survey. Tak main-main, RS JIH sudah membentuk Komite Syariah sebagai syarat mutlak RS Syariah.

RS yang kerap bekerjasama dengan RS terkemuka baik dalam dan luar negeri ini mengatakan bahwa motivasinya sangat kuat untuk menjadi RS Syariah. “Kami ingin mengimplementasikan visi RS JIH, yaitu terwujudnya JIH sebagai RS rahmatan lil ‘alamin melalui komitmen pada layanan kesehatan bertaraf internasional berdasarkan ketentuan RS syariah,” papar Miftah Yuni Kurniawati,S.Si,Apt, Sekretaris Tim Persiapan Sertifikasi Syariah RS JIH.

Tim asesor yang hadir adalah Miftachul Izah, SE, MKes dan dr. Tri Ermin Fadlina, MMR. Sebagai perwakilan Majelis Upaya Kesehatan Islam Indonesia (Mukisi) yang berwenang melakukan pra survey, mereka menelusuri dan menilai dokumen kebijakan, pedoman, dan prosedur.

“Mereka juga melihat implementasi pelayanan kesehatan kami di lapangan,” imbuhnya.

Bentuk Komite Syariah

Hasilnya, capaian masing-masing kelompok dinyatakan masih di bawah 80%. Terkecuali Standar Syariah Manajemen Akuntansi dan Keuangan (SSMAK). Meski demikian, RS JIH terus berkomitmen untuk berjuang memperbaiki dan memenuhi sesuai rekomendasi dari tim mukisi agar mendapat capaian minimal 80%.

Namun hal yang perlu mendapat apresiasi dari RS JIH adalah sudah disiapkannya Komite Syariah. Hal ini tentunya berbeda dengan RS pada umumnya yang belum menyiapkan Komite Syariah saat pra survey.

Diakui oleh wanita yang akrab dipanggil Yuni tersebut, bahwa pembentukan Komite Syariah tersebut sudah ada penetapan oleh Direktur RS JIH. Tak sekadar membentuk, Komite Syariah di RS JIH pun antusias untuk terus belajar tentang RS Syariah dengan mengikuti pelatihan Komite Syariah yang diadakan oleh Mukisi bulan ini di RS Sari Asih Karawaci.

Diakui oleh Yuni, pra survey berjalan lancar. seluruh direksi, jajaran manajer, dokter tetap, seluruh tim  Persiapan Sertifikasi Syariah dan tim Bimbingan Rohani kompak hadir dalam pra Survey tersebut.

Mengingat tahapan pra survey sangat penting dalam perjuangan RS JIH untuk menjadi RS Syariah, tim RS JIH pun jauh sebelumnya telah menyiapkan sejumlah upaya. Seperti mengikuti workshop persiapan RS Syariah, melakukan pembentukan Tim Persiapan Sertifikasi Syariah, menjalani pendampingan Syariah dari Mukisi, pemenuhan kebutuhan dokumen dan fisik sesuai elemen penilaian, serta Self Asessment seluruh kelompok syariah

“Kami juga sebelumnya telah melakukan Studi Banding ke RSI Sultan Agung Semarang,” imbuhnya.

Upaya RS JIH, lanjutnya, juga terwujud dalam perbaikan-perbaikan pasca pendampingan. Sebab dari tahapan pendampingan menuju tahapan pra survey, RS JIH melakukan revisi dokumen kebijakan dan prosedur disesuaikan dengan persyaratan syariah dan pemenuhan kebutuhan fisik untuk menjadi RS Syariah.

Pihak RS JIH pun sempat melontarkan sejumlah pertanyaan kepada tim asesor Mukisi. Beberapa di antaranya adalah terkait penggnaan obat haram yang belum ada obat penggantinya, konsep fertillitas yang dibenarkan, fungsi UPZ (Unit Pengumpul Zakat), hingga perkara akad-akad syar’i seperti tentang pasien gagal membayar dengan jaminan.

Diakui Yuni, RS JIH akan melakukan evaluasi per 3 bulan. Jika hasil self assessment sudah lebih dari 80% maka RS JIH siap melaju pada tahapan survey dari DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia).

“Evaluasi kami lakukan dari bulan November, Desember, hingga Januari 2019 mendatang,” paparnya.

Setelah menjadi RS Syariah, RS JIH berharap tetap dapat meningkatkan kepatuhan terhadap standar RS Syariah sebagai awal untuk membangun budaya Islam dan menanamkan nila-nilai Islam di RS JIH. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here