Mukisi.com-Islam memberi perhatian yang khusus dalam hal kebersihan dan kesucian. Begitu pentingnya bab ini, sampai menjadi syarat sahnya ibadah, shalat, ibadah yang menjadi tiang agama ini. Meski demikian, tak sedikit dari umat Islam yang belum memahami bagaimana bersuci, bagaimana hadast dan najis itu.

Jika menukil kitab al-Fiqh al-Manhaji, bersuci artinya bersih dari kotoran yang tampak maupun yang tidak tampak. Kotoran yang nampak identik dengan najis. Sedangkan kotoran yang tidak nampak identik dengan hadats.

Najis dan hadast memang perlu dibedakan. Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul mengatakan dalam rumaysho.com, najis kadang kita temukan pada badan, pakaian dan tempat. Sedangkan hadats terkhusus kita temukan pada badan. Najis bentuknya konkrit, sedangkan hadats cenderung abstrak dan menunjukkan atau menggambarkan keadaan seseorang.

Kemudian alumnus pascasarjana dari King Saud University, Riyadh, Saudi Arabia jurusan Teknik Kimia itu menukil Faedah dari pembahasan di Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Saalim, 1/71, Al Maktabah At Taufiqiyah. Ketika seseorang selesai berhubungan badan dengan istri (jima’), maka ia dalam keadaan hadats besar. Ketika ia kentut, ia dalam keadaan hadats kecil.

Sedangkan apabila pakaiannya terkena air kencing, maka ia berarti terkena najis. Hadats kecil dihilangkan dengan berwudhu dan hadats besar dengan mandi. Sedangkan najis, asalkan najis tersebut hilang, maka sudah membuat benda tersebut suci.

Mempengaruhi Sah-Tidaknya Shalat

Oleh karenanya, Islam mengenal bersuci dari najis. Peneliti el-Bukhari Institute, Muh. Juriyanto dalam bincangsyariah.com mengartikannya sebagai bersihnya anggota badan, tempat, atau pakaian dari najis saat melaksanakan ibadah, terutama shalat. Sebab shalat seseorang dinilai tidak sah secara syariat apabila bagian anggota badan, tempat, atau pakaian terkena najis.

Menyadari pentingnya hal ini, RS yang sudah tersertifikasi syariah pun berkomitmen untuk memastikan agar pakaian pasien benar-benar terjamin kesuciannya. RS syariah mengakui bahwa terkadang dalam proses pencucian terdapat noda yang sulit dibersihkan, darah pasien misalnya. Untuk menyikapi hal ini, RS Syariah tak lantas membiarkannya untuk kembali digunakan pasien, namun akan dikategorikan pada “produk reject”.

“Apabila masih ada noda, dilakukan treatment menggunakan bahan dan metode khusus, setelah itu dilakukan pencucian ulang dan dicheck ulang. Jika masih terdapat noda atau darah dan tak bisa dihilangkan, maka kita kategorikan sebagai product reject dan akan diinventaris serta digudangkan,” jelas Emi Yuni Astusi, SKM, Kepala Bagian Laundry Syariah RSI Sultan Agung Semarang. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here