Mukisi.com-Sakit selalu datang tak diundang. Jika sudah sakit terbaring sudah. Bagi seorang muslim, datangnya sakit harus disikapi dengan bijak. Karenanya, ada hal-hal yang perlu dihindari ketika sakit itu datang.

Manusia acapkali lupa betapa pentingnya suatu rahmat yang bernama sehat. Hal ini juga telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Bukhari yang berbunyi, “Ada dua nikmat yang seringkali memperdaya manusia, yaitu (nikmat) kesehatan dan (nikmat) kelapangan waktu.” Karena hal itulah, kesehatan dari Allah subhanahu wa ta’ala patut disyukuri dan benar-benar dijaga.

Namun, ada kalanya Allah memberi peringatan kepada manusia dengan mendatangkan sakit agar umatNya, bahwa nikmat sehat memang tidak ada duanya dibandingkan dengan seisi dunia.

Sementara itu, di kala sakit, ada beberapa hal bagi seorang muslim untuk dihindari menurut dr. Raehanul Bahraen, seorang dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Hal yang harus dihindari tersebut adalah sebagai berikut

Berburuk Sangka kepada Allah

Manusia adalah makhluk paling sempurna di antara ciptaanNya yang lain. Di balik kesempurnaan itu juga merupakan ujian terutama jika dihadapkan dengan qalbu (hati). Jika, hati manusia sudah dikuasai syaitan maka menyikapi sakit yang diterimanya bisa dengan berburuk sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hal inilah yang harus dihindari, karena prasangka umatNya juga adalah prasangka Allah. Disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban berbunyi, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba kepadaKu. Jika prasangkanya baik, maka aku berbuat demikian terhadapnya. Jika prasangkanya buruk, maka aku berbuat demikian terhadapnya.”

Menyebarluaskan Kabar Sakit dan Mengeluh pada Orang Banyak

 

Tanda tauhid pada seseorang bisa dilihat dari seberapa sering ia mengadu kepada Allah dengan ibadah-ibadahnya. Karena, Allah yang berhak dan paling mampu mengubah keadaan umatNya. Sebaliknya, jika mengeluh pada orang lain inilah yang menandakan bahwa seorang manusia memiliki iman yang tipis.

Mengadu kepada Allah juga adalah sunnah yang telah dilakukan oleh Nabi terdahulu. Seperti yang dilakukan Nabi Ayub ‘alaihissalam yang tercantum dalam Al Qur’an surat Yusuf:86 berbunyi, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”

Membuang Waktu, Mengerjakan yang Sia-sia Saat Sakit

Seperti dalam hadits riwayat Bukhari di atas. Kelapangan waktu juga merupakan suatu nikmat. Bagi seorang muslim, mengisi keluangan waktu dengan ibadah dan bermunajat kepada Allah adalah suatu keharusan. Seperti melakukan dzikir maupun shalat dan hal ibadah lainnya.

Sementara itu, di rumah sakit syariah, pasien akan sangat diperhatikan perihal ibadah agar mereka tak membuang waktu saat sakit untuk hal yang sia-sia.

“Hal ini dimaksudkan agar dalam kondisi sakit sekalipun pasien tetap mengingat Allah, dan memberi kesembuhan padanya,” kata Samsudin Salim S.Ag., M.Ag, selaku Manajer Bidang Pelayanan Islam (BPI) RSI Sultan Agung Semarang.

Tidak Memperhatikan Kewajiban Menutup Aurat

Meskipun sakit, bukanlah alasan untuk melupakan bahwa aurat adalah hal yang juga harus diperhatikan. Orang-orang yang sakit sering lalai akan hal menutup aurat ini.

Di rumah sakit syariah perihal menutup aurat juga sangat diperhatikan. Karena, bagi seorang muslim menutup aurat bukan sebuah tuntutan melainkan kewajiban dari aqidah Islam. “Ini merupakan bagian dari gerakan dakwah dalam pelayanan kesehatan,” terang Samsudin.

Berobat dengan yang Haram

Berobat sejatinya juga tidak boleh ada keharaman di dalamnya. Baik dari segi kandungan maupun asal muasal obat di dapat. Karena, menggonsumsi yang halal lagi baik juga merupakan suatu tuntunan dalam Islam.

Lagi-lagi rumah sakit syariah memperhatikan betul-betul masalah ini. Mereka sebisa mungkin menyediakan obat-obatan serta makanan yang halal untuk pasien. “Penggunaan obat di RS Syariah sudah diatur dalam maqashid syariah dan qawaid fiqhiyah,” ungkar dr. Siti Aisyah Ismail, MARS, selaku anggota divisi kerjasama internasional Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi).

Dengan menghindari hal-hal tersebut, akan membuat seorang muslim lebih bijak dalam menyikapi datangnya sakit. Menghindari prasangka-prasangka kepada Allah hingga menjaga asupan pengobatannya dari sumber yang halal lagi baik. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here