Mukisi.com-Jika di sekolah kita mengenal komite sekolah, di rumah sakit yang tersertifikasi syariah ada komite syariah. RS Syariah tak pernah sembarangan merekrut Komite Syariah. Sebab ia menempati peran penting dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kaidah syar’i, mulai dari pelayanan, keuangan, bahkan air untuk bersuci.

Dikatakan oleh Muhammad Arif Hidayat, S.Pd.I, staf bimbingan kerohanian dan  Sekretaris Komite Syariah RSI Sultan Agung, bahwa salah satu fungsi Komite Syariah adalah menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam pelayanan kesehatan di setiap unit kerja. Oleh karenanya, Komite Syariah berwenang melakukan pengawasan terhadap implementasi nilai-nilai syariah di Rumah Sakit.

“Selain itu, Komite Syariah juga berfungsi sebagai pemberi nasihat dan saran kepada manajemen mengenai hal yang terkait dengan Syariah,” terangnya.

Syarat Kepribadian dan Pendidikan

Dalam merekrut SDM (Sumber Daya Manusia) untuk ditempatkan sebagai Komite Syariah pun, RS Syariah tak main-main. Sebab menurut keterangan dari Arif, orang-orang yang menjadi Komite Syariah harus memiliki tiga kompetensi besar, yaitu menguasai manajemen perumahsakitan, menguasai manajemen dakwah dan hukum Islam, dan menguasai  instrumen dan standar RS Syariah.

Dari segi pendidikan, RS Syariah mengharuskan orang-orang yang menjadi Komite Syariah adalah minimal S1 semua disiplin Ilmu, telah melalui masa kerja minimal 3  tahun, serta mampu membaca Al-Quran level A.

“Sedangkan untuk Ketuanya, ia harus menempuh pendidikan minimal S2 dan telah bekerja (di RS Syariah) minimal 10 tahun,” imbuhnya.

Dari sisi kepribadian pun tak luput dari penilaian. Sebab sebagai Komite Syariah di sebuah RS Syariah, mereka harus memiliki kepribadian yang Islami.

“Selain itu, Komite Syariah harus memiliki kepribadian personal yang baik, di antaranya adalah jujur, amanah, disiplin, memiliki kemampuan komunikasi serta hubungan interpersonal dengan berbagai pihak, berorientasi kepuasan pelanggan, enerjik, kreatif dan inovatif, serta memiliki motivasi kerja yang tinggi,” jelasnya.

Petugas Komite Syariah, lanjutnya, adalah yang sesuai dengan kriteria yang ada dalam buku pedoman organisasi.

Mampu Memastikan Keuangan hingga Air Sesuai Sya’ri

Komite Syariah juga memiliki ruang lingkup pada area keuangan RS, yaitu meliputi manajemen keuangan, manajemen pemasaran, dan  manajemen fasilitas. Oleh karenanya seorang Komite Syariah wajib memiliki kompetensi dalam bidang manajemen RS. “Keuangan juga harus sesuai dengan kaidah syar’i,” imbuhnya.

Bahkan kehadiran Komite Syariah juga diperlukan untuk menjamin kesucian air dalam berthaharoh. Dr. dr. Sagiran, Sp.B, M.Kes, Kepala Divisi Sertifikasi RS Syariah Mukisi mengatakan bahwa belum banyak RS yang mengetahui bahwa Komita Syariah harus memastikan air yang tersedia di RS untuk bersuci adalah air yang suci dan bersih. Sebab bagaimanapun, bersuci merupakan syarat untuk melakukan shalat.

“Air untuk bersuci, baik digunakan oleh pasien, karyawan ataupun pengunjung harus dijamin bahwa air tersebut dalam kondisi bersih dan mensucikan. Sebab kedua hal itu adalah syarat mutlak untuk thoharoh. Harus ada pihak yang bertanggungjawab terhadap hal ini demi terjaminnya keabsahan pelaksanaan thoharoh,” tandas dokter bedah di RS Nur Hidayah Bantul ini.

Di sisi lain, pasien baik muslim maupun non muslim membutuhkan bimbingan rohani. Menurutnya, bimbingan rohani kepada pasien non muslim tetap harus diberikan. Sebab Komite Syariah juga mengemban kewajiban dakwah yang tidak boleh disalahartikan.

“Kadang-kadang ini dipahami salah oleh kedua belah pihak. Contohnya, bagi orang muslim mengatakan tidak perlu diberikan bina rohani sebab agamanya non muslim, kemudian bagi yang non muslim mengatakan tidak mau dipaksa-paksa Islam atau menjalankan ritual Islam,” terangnya.

Namun RS Syariah tidaklah demikian. Sebagai RS Syariah, seluruh sivitas, khususnya Komite Syariah dan Bina Rohani harus menjamin bahwa seluruh pasien tersantuni dengan baik secara rohani. Bahkan bina rohani tetap mendoakan dalam batas-batas yang wajar.

“Saya pribadi sebagai seorang dokter ahli bedah sering mencontohkan doa untuk pasien yang akan saya operasi meskipun non muslim. Dan ketika doa ini diketahui pasien dan keluarganya, saya juga mengatakan bahwa saya yakin Allah sang Maha Penyembuh adalah Tuhan yang kita sebut dengan nama apapun oleh hambanya,” tandasnya. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here