Mukisi.com-Jika selama ini kita mengenal Satuan Pengawas Internal (SPI) yang bertugas mengawasi perusahaan dari sisi keuangan, RS Syariah punya Komite Syariah yang bertujuan untuk mengawasi berbagai hal di RS dari sisi syariah.

Keberadaan Komite Syariah kini menjadi syarat mutlak bagi Rumah Sakit (RS) yang ingin tersertifikasi Syariah. Oleh karenanya, Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) menyelenggarakan ‘Workshop RS Syariah: Komite Syariah dan Bimbingan Kerohanian’ pada 22 November mendatang di RSI Sari Asih Ar-Rahmah Banten. Tak hanya itu, dalam workshop tersebut akan dibentuk pula Forum Rohaniawan RS.

Dikatakan oleh Dr. dr. Sagiran, Sp.B, M.Kes, Kepala Divisi Sertifikasi RS Syariah Mukisi, sekaligus yang akan menjadi pembicara dalam workshop tersebut, Komite Syariah merupakan badan yang menjadi partner kerja manajemen RS untuk ‘mengamankan’ sisi-sisi syariah dalam pelayanan pasien.

“Tidak hanya soal pelayanan kepada pasien, tetapi juga untuk mengamankan proses keuangan sehingga betul-betul sesuai kaidah syar’i, proses sosial, interaksi RS dengan lingkungan sekitar yang tentu tidak luput dari urusan-urusan yang memerlukan rekomendasi dari sisi syariah. Itulah perlunya dibentuk komite syariah,” jelas dokter ahli bedah di RS Syariah Nur Hidayah Bantul ini

Bersama H.Samsudin Salim, S.Ag, M.Ag, Manajer Bidang BPI (Bimbingan Pelayanan Islam) RSI Sultan Agung Semarang, ia akan memaparkan materi seputar Komite Syariah dan Bina Rohani Rumah Sakit. Dengan begitu, ia berharap RS yang belum membentuk Komite Syariah segera melengkapi struktur RS dengan membentuk Komite Syariah.

Sebagai pembicara, ia akan menjelaskan kedudukan Komite Syariah di sebuah RS. Sebab pada dasarnya, Komite Syariah akan sama pentingnya dengan Komite Medis, Komite Keperawatan, Komite Farmasi dan Terapi, dan lainnya.

“Seluruh aspek mulai dari struktur atau tata kerja komite akan dibahas dalam workshop ini,” imbuhnya.

Berdasarkan pengalamannya dalam mensurvey RS, nampak bahwa pentingnya struktur organisasi dan tata kerja bina rohani belum disadari dan disiapkan betul secara optimal oleh semua RS.

“Bahkan ada satu–dua RS yang belum membentuk bina rohani, dalam arti baru dibentuk secara mendadak, itupun belum memiliki tata kerja yang optimal. Oleh sebab itu, saya juga akan menyampaikan prosedur-prosedur kerja dalam bina rohani terhadap pasien di RS ataupun urusan lain yang berkaitan dengan peribadatan,” papar pria yang juga menjadi Staf Pengajar Bagian Anatomi dan Bedah FK UMY (Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) ini.

Para kabag (kepala bagian) atau kabid (kepala bidang), bahkan wadir (Wakil Direktur) RS sangat diperbolehkan mengikuti acara ini. Menurutnya, bila perlu, akan lebih baik jika turut mengajak para anggotanya. “Lembaga bina rohani harus kita perbagus,” jelasnya.

Ia pun berharap semua peserta dapat mengikuti materi dengan baik sehingga seusai mengikuti workshop dapat mengupgrade dan memperbaiki struktur organisasi kerja untuk membentuk dan memperbagus lembaga bina rohani di RS masing-masing. Hingga pada gilirannya, semua pasien beserta keluarga pasien dapat tersantuni kerohaniannya dengan baik.

Ada Pembentukan Forum Rohaniawan RS

Workshop tersebut tak hanya memaparkan materi semata, namun juga praktik. “Nanti akan ada paparan singkat dan kemudian langsung praktek, jika perlu memang menghadirkan naracoba atau bahkan pasien jika memungkinkan. Kita bisa mempraktekkan bagaimana melaksanakan bina rohani tersebut,” jelasnya

Kemudian, akan ada pembentukan forum rohaniawan RS dalam acara tersebut. Sebagaimana, profesi dokter yang memiliki organisasi IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan organisasi-organisasi turunannya, dan para nutrisionis yang juga memiliki forum dan organisasi, pun demikian para bina rohani di RS.

“Perlu rasanya dibentuk forum rohaniawan RS, bentuk dan ruang lingkupnya pun sudah jelas, jadi bisa saling meningkatkan kapasitasnya masing-masing,” imbuhnya.

Bukan tanpa alasan, bina rohani memang menempati peran yang urgen, sebab sejatinya manusia memiliki dua kebutuhan dasar dalam rangka memperoleh kesehatan yang utuh. Yaitu fisik dan rohani.

“Separuh belahan adalah fisik atau jasmani, sementara separuh lainnya adalah rohani atau jiwa. Selama ini RS hanya berfokus pada masalah-masalah fisik saja. Padahal bina rohani juga sangat dibutuhkan. Bahkan  boleh jadi kasus-kasus fisik yang ada penyembuhannya sangat ditunjang dan dibantu dengan adanya bimbingan rohani pasien,” tandasnya mengakhiri. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here