Mukisi.com-Program Keluarga Berencana telah lama dicanangkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Ini dilakukan untuk menekan populasi di dalam suatu wilayah yang kian membludak. Lalu, bagaimana Islam memandang program Keluarga Berencana ini?

Program KB di Indonesia sendiri sudah mulai direalisasikan di akhir tahun 1970-an. Tujuan dari diadakannya program ini menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak serta keluarga dan bangsa pada umumnya.

Sementara itu menurut pandangan Islam, Keluarga Berencana ini dapat dihukumi mubah selama KB yang dilakukan sifatnya hanya sementara bukan permanen seperti sterilisasi. Kebolehan melakukan hal demikian berdasarkan dari salah satu hadits dan Syara’ telah mengisyaratkan bahwa metode itu tidak menimbulkan kemudharatan bagi suami istri menukil dari buku berjudul An Nizham Al Ijtima’i fi Al Islam karangan Taqiyuddin An Nabhani.

Hadits yang dimaksud yang membolehkan Keluarga Berencana ini berasal dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam hadits Abu Daud yang berbunyi, “Seseorang dari kalangan Anshar pernah datang menjumpai Rasulullah, ia lantas berkata pada beliau, ’Sesungguhnya saya memiliki seorang hamba sahaya wanita. Saya sering menggaulinya, sementara saya tidak suka kalau dia hamil,’. Kemudian, Rasulullah bersabda, ‘Lakukan saja ‘azl terhadapnya jika engkau mau. Sebab, sesungguhnya akan terjadi pula apa yang memang telah ditakdirkan oleh Allah baginya.’”

Menghentikan Keturunan Tidak Diperbolehkan

Program penekanan populasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara yang sudah dikembangkan di zaman modern seperti ini. Namun, cara yang dilakukan wajib tidak menimbulkan efek permanen. “Yang ditekankan oleh para ulama adalah selama untuk pengaturan keturunan, KB dibolehkan. Tapi, jika menghentikan keturunan secara permanen maka tidak dibolehkan,” kata dr. Bagus Taufiqur Rahman, Sp.U, MARS, seorang dokter dari RSUD Kota Bekasi.

Ia pun kembali menekankan bahwa selama ada cara ber-KB lain yang bisa dipakai sebaiknya vasektomi (operasi kecil (bedah minor) yang dilakukan untuk mencegah transportasi sperma pada testis dan penis.) dihindari. Karena, selain dapat menghentikan keturunan secara permanen juga ada berbagai risiko komplikasi lain yang mungkin terjadi.

Di sisi lain, negara yang mengadakan program KB ini meski bertujuan baik tapi perlu memperhatikan beberapa hal. Dikatakan oleh Sufianti Subchan, S.Kep., Ns, anggota dari HELP-S (Healthcare Professionals for Sharia) bahwa jika negara menekan populasi dengan alasan angka kemiskinan yang kian meningkat, beratnya biaya pendidikan dan kesehatan maka ini menentang konsep negara menurut Islam.

Dimana, banyaknya penduduk bukanlah beban bagi negara. Sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Daud, “Menikahlah kalian dengan wanita penyayang lagi subur, karena (pada hari kiamat nanti), aku membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.”

KB memang masih menjadi pro kontra di tengah-tengah masyarakat. Karenanya, ada baiknya bagi yang ingin melaksanakan KB mempertimbangkan betul-betul keputusannya. Bagi seorang muslim, sudah jelas KB boleh dilakukan jika tidak menghentikan keturunan secara permanen.

RS Syariah Menyediakan Layanan KB

Sementara itu, menanggapi program KB ini, RS Syariah tetap menyediakan seluruh layanan KB baik yang sementara maupun permanen.

“RS Syariah sepakat untuk menyediakan semuanya, karena beberapa dari metode KB tersebut akan digunakan di saat yang tepat,” kata dr. Sagiran, Sp.B., M.Kes, sebagai Ketua Divisi Sertifikasi Syariah Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi).

Kondisi yang tepat yang membutuhkan KB mantap atau yang bisa dibilang permanen tersebut adalah dimana jika ada kondisi seorang ibu jika hamil akan membahayakan dirinya maupun janinnya nanti.

“Pada kondisi inilah, KB mantap bisa digunakan,” tegasnya. (ipw)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here