Mukisi.com-Dalam Islam, shalat adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Saat sakit pun diminta untuk terus menjalankan shalat semampunya. RS yang sudah tersertifikasi syariah mengawalnya.

Di RS Syariah, pasien dan keluarganya tak perlu khawatir untuk urusan shalat pasien. Petugas akan selalu mengingatkan pasien untuk shalat. “Ini menjadi dasar bagaimana petugas rumah sakit melayani mereka, terutama membantu kelancaran shalat pasien. Karena justru di saat sakit itulah, pasien sebaiknya lebih meningkatkan kedekatannya kepada Yang maha Pemberi kesembuhan,” ujar Miftachul Izah, SE, M.Kes, Wakil Sekretaris Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi).

Karenanya, ia melanjutkan, RS Syariah berupaya agar pasiennya tidak ketinggalan waktu shalat meski dalam keadaan sakit sekalipun. Pasien akan benar-benar didukung untuk melaksanakan shalat, misal dengan memastikan kiblat untuk shalat pasien, berwudhu atau bertayammum hingga tata cara shalat saat sakit. Inilah cara rumah sakit syariah agar pasien dalam kondisi sakit-pun tetap mengingat Allah subhanahu wa ta’ala.

Berbeda halnya jika pasien dalam kondisi darurat yang membutuhkan operasi sesegera mungkin. Karena hal demikian, shalat bisa ditunda. Demikian juga pendapat dari Hasan bin Ammar seorang ulama Hanafiyah dalam kitab Nurul Idhah wa Najat Al Arwah yang membolehkan menunda shalat karena hubungannya dengan menyelamatkan nyawa orang lain.

Maka dari itu, dengan kondisi yang demikian rumah sakit syariah sangat menjamin kenyamanan pasien dalam melaksanakan shalat. Mengusahakan agar pasien juga bisa melakukan shalat tepat waktu dan didukung penuh untuk melaksanakannya.

Keringanan Shalat untuk Orang Sakit

Dalam Islam, shalat sudah menjadi pondasi agama seseorang. Karenanya, shalat adalah ibadah yang paling wajib dilakukan. Perintah melaksanakan shalat ini terdapat dalam berbagai macam ayat di dalam Al Quran.

Maka dari itu, dalam kondisi apapun kewajiban untuk mendirikan shalat ada dalam kondisi apapun, meskipun sakit sekalipun. Hal ini sudah tercantum dalam surat At Taghabun: 16, “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu.”

Selain dalam ayat tersebut, juga ada dalam hadits riwayat Bukhari oleh Imran bin Hushain yang berbunyi, “Pernah penyakit wasir menimpaku, lalu aku bertanya pada Nabi tentang cara shalatnya. Maka beliau menjawab, ‘Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu duduklah, dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah.’”

Dari penggalan ayat suci Al Quran dan hadits tersebut dapat dipahami bersama bahwa sakit-pun tidak akan bisa menggugurkan kewajiban untuk shalat.

Kemudian, dipaparkan oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc, MA, tentang perihal menjama’ shalat bagi yang sedang sakit. Ia menukil dari pendapat Imam Ahmad bin Hanbal bahwa menjama’ shalat bagi orang yang sakit diperbolehkan. Hal ini juga tercantum dalam kitab Al Mughni, Ibnu Qudamah menuliskan bahwa sakit adalah hal yang membolehkan jama’ shalat.

Meski demikian, adapula pendapat beberapa imam besar yang melarang menjama’ shalat karena sakit. Karena, para imam tersebut berpegangan pada Al Quran surat An Nuur: 61, “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak bagi orang pincang, tidak bagi orang sakit.”(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here