Mukisi.com– Hingga 2015, penderita HIV/AIDS mengalami peningkatan yang signifikan dan sebagian besarnya dijangkiti oleh ibu rumah tangga. Peningkatan ini terus terjadi dari tahun ke tahun, sangat memprihatinkan.

Hal ini, menandakan penularan HIV sudah masuk ke dalam gelombang keempat. Gelombang pertama terjadi pada 1987-1997. HIV menyebar kala itu karena trend kala itu karena hubungan seks sesama jenis.

Memasuki gelombang keempat, mulai tampak target penyebaran juga menjangkiti para ibu rumah tangga, kelompok perilaku berisiko rendah. Jika yang demikian tidak segera ditangani, maka bukan tidak mungkin HIV masuk ke dalam gelombang kelima, penularan kepada bayi melalui ibu yang terjangkit HIV.

Penderita HIV di RS Syariah

Meski begitu, tak menutup kemungkinan ada pengidap HIV yang berobat di salah satu RS Syariah di Indonesia. Jika ada kejadian seperti ini, tim Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) menjamin perlakuan yang sama dengan pasien yang lain.

“Semua diperlakukan sama,” tegas dr. Sagiran Sp.B., M.Kes, Ketua Divisi Sertifikasi Syariah Mukisi. Semua pasien, akan diawali dengan proses penyadaran bahwa sakit adalah anugerah, tak terkecuali bagi pasien yang mengidap HIV. “Karena bisa jadi melalui penyakit yang diderita, merupakan jalan untuk menggugurkan berbagai dosa,” ujarnya.

RS Syariah, lanjut Dokter Sagiran, selalu menyampaikan konsep sehat dan sakit dalam Islam semata-mata asalnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika Allah turunkan sakit, pasti Allah juga menurunkan kesembuhan.

Pihak rumah sakit syariah bersama-sama mengajak semua pasien percaya bahwa sakit yang dideritanya adalah kafarah atau penebus atas dosa-dosa yang telah dilakukan agar kemudian dosa tak memberatkan saat di akhirat.

Hukuman dalam Islam, Tindakan Antisipatif

Penyakit yang penyakit ini bermula dari perzinaan itu memang terus menjadi momok. Dengan begitu, harus dipahami bahwa pintu perzinaan harus ditutup rapat-rapat.

Dengan tegas, Islam mengharamkan perzinaan dan seks bebas. Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmanNya surat Al Isra: 32 berbunyi, “Janganlah kalian mendekati perzinaan. Karena, sesungguhnya perzinaan itu adalah perbuatan yang keji dan cara yang buruk (untuk memenuhi naluri seks).”

Karenanya, bagi seorang muslim mengikuti tuntunan Allah dalam kitabNya adalah suatu keharusan. Jika, ayat tersebut merujuk pada aspek pelakunya maka juga ada aspek obyeknya. Islam jelas melarang tegas peredaran produksi, konsumsi, dan distributif barang jasa yang bisa mengantar pada perbuatan zina. Hal demikian berdasarkan kaidah ushul yang menyatakan “Sarana yang bisa menghantarkan pada keharaman maka hukumnya haram.”

Di sisi lain, bagi para pezina di zaman Nabi dahulu ada hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka. Hukumannya juga berbeda-beda tergantung status hubungannya saat itu, menikah atau lajang.

Kala itu, pezina yang telah menikah dihukum rajam oleh Nabi hingga mereka meninggal. Berbeda dengan yang lajang jika melakukan zina. Mereka akan dihukum cambuk sebanyak 100 kali. Ini berdasarkan pada Al Quran surat An Nur: 2 yang berbunyi, ”Pezina perempuan dan laki-laki cambuklah mereka masing-masing dengan 100 kali cambukan.”

Pada dasarnya, hukuman-hukuman itu ada dalam rangka bentuk antisipatif agar manusia tidak melakukan hal yang melanggar kaidah yang kemudian tentu akan merugikan diri sendiri.(ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here