Mukisi.com-Geliat bersyariah di dunia kesehatan semakin nyata. Setelah RS PELNI yang mendapatkan pendampingan untuk menjadi RS yang bersertifikasi syari’ah. Sabtu lalu (27/10), giliran RSI Fatimah Cilacap yang selangkah lebih dekat menuju RS bersertifikasi Syariah dengan mendapat pendampingan.

Dikatakan  oleh dr. Sagiran, Sp.B, M.Kes, selaku ketua Divisi Sertifikasi Syariah Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) bahwa RSI Fatimah Cilacap termasuk RS yang sangat antusias untuk mendaftar sertifikasi syariah. Jajaran direksi RS pun menyambut tim Mukisi dengan baik.

“Baik direktur utama, direktur umum, direktur pelayanan, ketua yayasan dan dewan Pembina yayasan, seluruhnya sangat baik menyambut kami, dari awal hingga akhir acara,” paparnya.

dr. Sagiran, Sp.B, M.Kes dan dr. Tri Ermin Fadlina, MMR sebagai perwakilan tim Mukisi yang hadir pun memberikan sejumlah penjelasan mengenai RS Syariah. Beberapa di antaranya adalah akad-akad syariah dan arahan tentang suasana Islami yang sejatinya harus nampak di RS Syariah. Salah satu suasana Islami yang dimaksud adalah adanya poster-poster kesehatan Islami dan kalimat-kalimat dakwah yang mampu membimbing pengunjung untuk menjalankan kesehatan syar’i. Apalagi menurutnya, RSI Fatimah Cilacap termasuk RS yang memiliki lahan luas, lebar dan open space yang banyak, sehingga sangat memungkinkan jika disemarakkan gerakan dakwah melalui poster-poster.

“Sehingga para pengunjung dan pasien betul-betul merasa inilah RS Syariah, hal ini tentunya dapat meneduhkan hati pengunjung dan sebagai sarana penunjang kesembuhan pasien,” imbuhnya.

Tim Mukisi berkeliling mulai dari UGD (Unit Gawat Darurat), ruang rawat jalan, ruang rawat inap, kamar operasi, bagian cuci darah, bagian laundry, dapur bahkan area sanitasi.

Insyaa Allah semuanya sudah mendekati siap. PR (Pekerjaan Rumah) nya pun tidak banyak. Sebab banyak hal-hal yang secara implementatif sudah dijalankan. Ada beberapa kegiatan positif yang telah membudaya, yaitu penyuluhan dan edukasi kesehatan kepada keluarga dan pasien,” jelasnya.

Potensi RSI Fatimah Cilacap

RSI Fatimah Cilacap termasuk RS yang perkembangan dan percepatannya cukup bagus. Menurut pemaparan dokter yang juga menjadi ketua Mukisi Yogyakarta ini, yayasan RSI Fatimah Cilacap sudah berdiri sejak tahun 1983, yang kemudian pada tahun 1996 RSI Fatimah Cilacap beridiri. Hingga saat ini RS tersebut memiliki lahan yang cukup luas, yaitu sekitar 3 hektar dengan kapasitas 200 tempat tidur. RSI satu ini juga telah terakreditasi paripurna oleh KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit).

Di sisi lain, RSI Fatimah Cilacap secara eksplisit telah menyatakan diri sebagai RS Islam. Sehingga selama ini, manajemen operasional pun sudah menyesuaikan dengan tata cara syariat Islam.

“Sehingga untuk menjalani sertifikasi syariah, insyaa Allah tidak terlalu sukar untuk memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh Mukisi,” papar dokter yang juga menjadi tim bedah RS Nur Hidayah Bantul ini.

Seluruh tim dari RSI Fatimah Cilacap pun pada saat pendampingan secara serius, fokus dan antusias mencatat poin demi poin standar elemen penilaian. “Bahkan ibu Dirut dari RSI Fatimah Cilacap menunggu mulai dari awal hingga penutupan. Beliau juga aktif memimpin timnya untuk membuat catatan-catatan terkait masukan dari kita,” paparnya.

Ajukan Pertanyaan Kritis

Selama pendampingan, sejumlah pertanyaan kritis pun dilontarkan oleh RSI Fatimah Cilacap. “Di antaranya ada seorang dokter spesialis anak yang menayakan bagaimana dengan pasien yang masih berusia anak-anak atau bahkan bayi, perlukah ditalqin? sebab mereka belum bisa berbicara dengan baik,” ujar dokter lulusan FK UGM ini mencontohkan.

Diakui olehnya, pertanyaan demikian merupakan kali pertama ia terima. Ia pun menjawab, bahwa hal tersebut serupa dengan penderita stroke akut yang tidak mampu berbicara, atau pasien yang bisu dan tuli.

“Talqin tetap penting diperdengarkan kepada siapapun pasien itu. Contoh lain misalnya, pasien yang bisu dan tuli, ataupun orang yang gagu dalam berbicara, ketika meninggalnya pun tetap harus ditalqin. Hal ini demi menjalankan hadits nabi. Yaitu pada hadits riwayat muslim 916, Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’,” ujarnya menjelaskan.

Pertanyaan kritis lain yang dilontarkan yaitu mengenai rekening kebajikan, dana-dana non halal dan peruntukannya.

Insyaa Allah menurut perkiraan kami dalam waktu dua minggu kita akan tunggu laporannya. Begitu sudah menyatakan siap, akan segera masuk pada tahap pra survey,” tutup pria yang juga menjadi Staf Pengajar Bagian Anatomi dan Bedah FK UMY (Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) ini. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here