Mukisi.com-Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk tetap bertindak dan berpikir positif dalam kondisi apapun.  Termasuk saat sakit. Urwah bin Zubair, seorang tabi’in punya pengalaman unik. Agar penyakitnya tidak menjalar, dokter memutuskan bahwa salah satu kakinya harus diamputasi. Dalam prosesnya, ia menolak dibius dan memilih hanya berdzikir dan bertasbih.

‘Urwah bin Zubair adalah salah seorang ahli fiqh di zamannya. Suatu saat, ia diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan  musibah-musibah yang datang secara bertubi menghantam kehidupannya. Alih-alih menyusutkan imannya, cucu dari Abu Bakar ash-Shidiq ini justru semakin tabah dan menguatkan ketakwaannya.

Ia adalah putra dari Zubair bin Awwam, sang pembela Rasulullah, orang pertama yang menghunus pedangnya dalam Islam, serta salah satu di antara sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Ibunya bernama Asma binti Abu Bakar Ash-Shidiq, seorang wanita mulia yang turut serta dalam hijrah ke Madinah. Sehingga dari segi nasab, ‘Urwah bin Zubair berasal dari keluarga mulia dan berwibawa.

Semasa hidupnya, ‘Urwah bin Zubair menghabiskan waktu untuk beribadah dan berburu ilmu melalui majelis-majelis ilmu. Ia mendatangi sisa-sisa sahabat Rasulullah yang masih hidup guna mencari ilmu.  Mendatangi rumah mereka, sholat di belakang mereka, dan menghadiri majelis-majelis mereka. Hingga pada gilirannya, ia berhasil menjadi satu di antara fuqaha sab’ah (tujuh ahli fiqh) Madinah yang menjadi sandaran kaum muslimin dalam urusan agama.

Tak hanya rakyat biasa, para pemimpin juga banyak yang meminta pertimbangannya urusan ibadah maupun Negara karena kepandaian ilmu yang Allah berikan kepada ‘Urwah.

Diuji Berkali-kali

Suatu masa di pemerintahan al-walid bin Abdul Malik, ‘Urwah bin Zubair diundang oleh amirul mukminin untuk berziarah di Damaskus. Ia pun mengabulkan undangan tersebut, tak lupa ia membawa putra sulungnya. Ketika tiba di sana, putra ‘Urwah memasuki kandang kuda untuk melihat kuda-kuda peliharaan pilihan. Namun tak ada yang menduga, kandang kuda tersebutlah yang menyebabkan putra ‘Urwah meninggal dunia. Salah satu seekor kuda menyepaknya dengan keras.

Kabar duka meninggalnya putra ‘Urwah masih kental terasa. Bak badai angin datang kembali, betis dari ayah empat anak ini tiba-tiba membengkak. Penyakit semakin menjalar dengan cepat.

Bergegaslah amirul mukminin mendatangkan dokter atau tabib-tabib terbaik untuk menyembuhkan penyakit ‘Urwah.  Namun para tabib sepakat untuk mengamputasi kaki ‘Urwah bin Zubair sebelum penyakit tersebut menjalar ke seluruh tubuhnya dan meregang nyawanya. Hanya itulah jalan satu-satunya yang bisa ditempuh.

Amputasi Tanpa Bius

Tatkala ahli bedah telah datang dengan membawa pisau untuk menyayat daging dan gergaji untuk memotong tulangnya, seorang tabib berkata kepada Urwah, “Sebaiknya kami memberikan minuman yang memabukkan agar Anda tidak merasakan sakitnya diamputasi.”

Permintaan itu, mentah-mentah ditolak oleh Urwah, “Tidak perlu, aku tidak akan menggunakan yang haram demi mendapat afiat(kesehatan).” Tabib itu berkata lagi, “Kalau begitu kami akan membius Anda!” Urwah pun dengan cepat menjawabnya, “Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.”

Ketika operasi hendak dimulai, beberapa orang mendekati Urwah, lalu beliau bertanya, “Apa yang hendak mereka lakukan?” Lalu dijawab, “Mereka akan memegangi Anda, sebab bisa jadi Anda nanti merasa kesakitan lalu menggerakan kaki dan itu bisa membahayakan Anda.” Mendengar penjelasan dokter itu, Urwah menjawab, “Cegahlah mereka, aku tidak membutuhkannya. Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih.”

Mulailah tabib menyayat dagingnya dengan pisau dan tatkala mencapai tulang, diambillah gergaji untuk memotongnya. Sementara itu Urwah tak henti-hentinya mengucapkan, “Laa ilaaha Illallah Allahu Akbar,” sang tabib terus melakukan tugasnya dan Urwah juga terus bertakbir hingga selesai proses amputasi itu.

Proses amputasi belum selesai. Kaki Urwah harus dituangi  minyak yang mendidih untuk menghentikan pendarahannya dan menutup lukanya. Merasakan kesakitan yang luar biasa, Urwah pun pingsan untuk beberapa lama. Pingsannya Urwah ini membuatnya tidak lagi melafalkan Al Qur’an dalam mulutnya. Inilah satu-satunya hari di mana beliau tidak bisa melakukan kebiasaan yang beliau jaga semenjak remajanya.

Ridho dengan Ujian Allah

Urwah telah kehilangan putranya, lalu sebelah kakinya. Ia dengan ridho menerima penyakit yang telah membuatnya kehilangan sebelah kakinya. Namun, apakah dengan kejadian tersebut Urwah lantas membenci dan memaki Allah? Tidak.

Justru, kecintaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kian bertambah dalam. Urwah tak hanya menguatkan diri sendiri, namun juga kepada orang lain yang tertimpa musibah.

Kemudian, tatkala beliau diantarkan pulang ke Madinah dan menjumpai keluarganya, Urwah berkata sebelum ditanya, “Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah subhanahu wa ta’ala telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu. Maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Aku dikaruniai dua tangan dan dua kaki, lalu hanya diambil satu, maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Dia mengambil sedikit dariku dan masih banyak yang ditinggalkan-Nya untukku. Bila Dia menguji sekali, kesehatan yang Dia karuniakan masih lebih banyak dan lebih darinya.”

Subhanallah, begitu tegarnya ‘Urwah menerima takdir hidupnya, dan menjalani hari dengan amalan-amalan baik. Ia, senantiasa mengajak orang-orang untuk memandang suatu masalah dari sisi hakikatnya. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here