Mukisi.com-Nilai-nilai luhur syariah tak hanya dibutuhkan di RS yang berlebel Islam. RS PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia), salah satu RS BUMN di Jakarta juga tertarik untuk disertifikasi menjadi RS syariah.

Pendampingan sertifikasi kali ini dilakukan di RS PELNI Jakarta , Kamis lalu (18/10). RS ini tergabung dalam jajaran RS milik BUMN di Indonesia dan salah satu yang terbesar.

Karena bukan RS Islam, beberapa karyawan RS PELNI non muslim. Dengan demikian, ada beberapa hal yang para karyawan tersebut tidak berkewajiban melakukan.

“Untuk karyawan non muslim, tidak berkewajiban mengikuti aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan ibadah, misal kajian karyawan dan mengingatkan jam shalat bagi pasien,” kata dr. Masyhudi, AM, M.Kes, Ketua Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) yang turut hadir dalam pendampingan itu.

Selain Dokter Masyhudi, turut juga hadir dalam pendampingan itu, Miftachul Izah, S.E., M.Kes, Wakil Sekretaris Mukisi, dan dr. Yahmin Setiawan, MARS mewakili divisi strategi dari Mukisi.

Dalam pendampingan itu, tim Mukisi disambut oleh jajaran direksi dari RS PELNI Jakarta, di antaranya Dr. dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.B., Sp.BTKV(K), Direktur Utama RS PELNI Jakarta, dr. Rooshardianti, MBA, Direktur Operasional RS PELNI Jakarta, dan dr. Astari Mayang Anggraini, MARS sebagai Direktur Pelayanan RS PELNI Jakarta.

“Pendampingan ini merupakan prosedur awal yang kami lakukan kepada rumah sakit yang mengajukan diri untuk disertifikasi syariah,” ujar Dokter Masyhudi.

Agenda pendampingan kali ini diawali dengan pemaparan tentang gambaran singkat rumah sakit syariah, manajemen rumah sakit dan telusur lapangan yang berbasis syariah. Dimana, materi-materi tersebut diterangkan oleh semua pendamping dari Mukisi. Dokter Masyhudi memaparkan tentang gambaran singkat rumah sakit syariah, Miftachul Izah memaparkan tentang manajemen rumah sakit berbasis syariah, dan Dokter Yahmin memaparkan tentang pelayanan berbasis syariah.

RS Pelni Sangat Siap

Kemudian, terkait dengan persiapannya, Mukisi memandang RS PELNI Jakarta sangat siap dengan adanya pendampingan ini. “Mereka sangat siap menghadapi sertifikasi ini dengan berkomitmen untuk menindaklanjuti hasil pendampingan,” jelas Dokter Masyhudi.

Hasil pendampingan yang ditindaklanjuti oleh RS PELNI Jakarta tersebut berupa penambahan beberapa dokumen yang terkait dengan nilai syariah, misalnya saja dokumen-dokumen yang terkait dengan akad di dalam rumah sakit.

Untuk melaju ke tahap pra survey RS PELNI Jakarta, dikatakan oleh pria yang juga Ketua Mukisi Pusat tersebut tak membutuhkan waktu yang lama. Kurang lebih 1,5 hingga 2 bulan.

Lalu, dengan terprosesnya RS PELNI Jakarta sebagai calon penerima sertifikasi syariah yang pertama kali, tentu banyak pengharapan dari Mukisi bagi RS PELNI Jakarta. “Semoga ini dapat menjadi percontohan bagi RS BUMN yang lain untuk tersertifikasi sebagai rumah sakit syariah,” ungkap Dokter Masyhudi yang juga menjabat sebagai Direktur RSI Sultan Agung Semarang.

Adapun selain harapan tersebut, menggemakan rumah sakit syariah ini adalah tantangan bersama. Ini membuat para pegiat kesehatan sadar bahwa nilai-nilai syariah yang ada di dalam rumah sakit bukan hanya untuk kepentingan rumah sakit namun juga kepentingan pasien dan elemen lain di dalam rumah sakit. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here