Mukisi.com-Al Qur’an, selain sebagai al-huda (sumber petunjuk), juga merupakan asy-syifa (penyembuh). Beberapa ayat dalam Al Qur’an pun banyak yang menerangkan demikian. Namun bagaimana tafsiran ‘penyembuh’ dalam hal ini? Benarkah Al Qur’an dapat digunakan untuk memusnahkan penyakit?

Dalam surat Yunus, Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Ibnu Katsir mengatakan, “Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/274).

Kemudian bila menengok Al Qur’an surat Fushilat, Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan.’” (QS. Fushilat: 44)

Makna kedua ayat tersebut bersifat saling melengkapi. Keterangan global ada dalam surat Fushilat, dan didetailkan dengan keterangan yang ada di surat Yunus. Sehingga yang dimaksud Al Qur’an sebagai syifa bagi orang yang beriman, adalah obat bagi segala penyakit hati.

Ustadz Ammi Nur Baits, Dewan Pembina konsultasisyariah.com menjelaskan dalam laman konsultasi syariah, bahwa As-Sa’di dalam kitabnya, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, menjelaskan bahwa Al Qur’an adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat atau syubhat yang mengotori iman. Karena, dalam Al Qur’an terdapat nasihat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman yang akan memicu seseorang pada sikap harap (raja’) dan takut (khauf).

Ketika hati seseorang sehat, tidak banyak berisi syahwat dan syubhat, anggota badan pun akan mengikutinya. Karena, anggota badan akan jadi baik jika hatinya baik. Ia juga menjadi rusak, jika hatinya rusak. Sederhananya, ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 366).

Dalam hadist Bukhari dan Muslim, diceritakan kisah dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri yang sedang mengobati dengan membacakan bacaan ruqyah kepada orang yang hampir lumpuh karena terkena sengatan kalajengking. Beliau menggunakan Al-Fatihah sebagai bacaan ruqyah dan ternyata atas izin Allah hal tersebut berhasil menyembuhkannya.

Kesembuhan Tergantung Kadar Keimanan Seseorang

Raehanul Bahraen, dosen Fakultas kedokteran Universitas Mataram, sekaligus pembina KIPMI (Komunitas Ilmuan dan Profesional Muslim Indonesia) dalam muslim.or.id mengatakan, keberhasilan pengobatan dengan Al Qur’an sangat terkait dengan keimanan. Oleh karenanya jika tidak sembuh, bukan Al Qur’annya yang salah, tetapi keimanan orang yang menggunakan Al Qur’an yang kurang.

“Bisa jadi ada orang yang terlihat shalih tetapi kita tidak tahu keimanannya. Hal ini mencakup baik yang mengobati dan yang diobati. Jadi jika ada orang yang terkena penyakit karena disengat kalajengking atau yang lebih ringan misalnya disengat tawon, kemudian ada yang membacakan Al-Fatihah namun ternyata tidak sembuh. Maka jangan salahkan Al-Fatihah jika tidak sembuh, tetapi salahkan tangan lemah yang tidak mahir memegang pedang tajam. Jika iman, amal, dan tawakkal sebaik Abu Sa’id Al-Khudri maka kita bisa berharap penyakit tersebut sembuh,” ungkap dokter yang menempuh pendidikan spesialis patologi klinik di FK UGM Yogyakarta ini. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here