Mukisi.com-Selain bermanfaat bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak, memberikan ASI (Air Susu Ibu) juga merupakan tuntunan bagi seorang Ibu dalam Islam. Bagaimana Islam mengajarkannya?

Firman Allah yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 233, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” Jika diperhatikan dari ayat tersebut, dua tahun merupakan masa ideal bagi penyusuan bayi. Hal inipun didukung pada ayat 14 dari surat Luqman, Allah berfirman, “Dan menyapihnya dalam dua tahun.”

Kemudian muncullah penjelasan dari dr. Abdul Basith Jamal, MSc dan dr. Daliya Shadiq Jamal dalam republika.co.id, bahwa ungkapan Al-Quran “dalam dua tahun” tersebut menunjukkan ajaran penyapihan bayi (diputusnya masa penyusuan bayi oleh ibunya) yang dilakukan dalam rentang waktu dua tahun. Artinya, masa penyapihan itu berlangsung selama dua tahun atau kurang sedikit. Dengan demikian hal itu bukan berarti penyapihan harus dilakukan tepat dua tahun.

dr. Raehanul Bahraen, dalam muslimafiyah.com, pun mendukung statement di atas. “Perintah menyusui selama dua tahun dalam Al-Quran tidak bersifat memaksa dan ini adalah perkara dunia yang mubah dan perkara yang lapang,” ungkapnya.

Adapun jika melihat dari sisi medis saja, dikatakan cukup untuk memberikan ASI kepada bayi selama enam bulan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc, dokter lulusan University Medical Center Rotterdam, Belanda itu. “Yang direkomendasikan adalah memberikan ASI eksklusif sampai usia enam bulan. Setelah bayi mencapai usia enam bulan, hendaknya diberikan makanan tambahan lain selain ASI, yang disebut dengan makanan pendamping ASI (MPASI),” paparnya dalam kesehatanmuslim.com.

ASI Bantu Optimalisasi Nutrisi

Dokter yang juga menjadi dosen mikrobiologi di UGM itu pun menjelaskan bahwa enzim aktif di dalam ASI dapat membantu bayi mencerna makanan, sehingga bisa mengoptimalkan nutrisi dari MPASI. “Pemberian ASI dan MPASI secara tepat diharapkan mampu menjadi pondasi nutrisi yang baik bagi anak,” imbuhnya.

Namun ia menegaskan, munculnya testimoni masyarakat tentang keberhasilan ASI eksklusif dua tahun bagi tumbuh kembang anak tidak bisa dilihat secara ‘kacamata kuda’. “Kalaupun sebagian orangtua ada yang menyampaikan testimoni mereka tentang keberhasilan pemberian ASI eksklusif selama dua tahun, maka hal ini hanyalah testimoni orang per orang. Ketika diterapkan ke anak lain, belum tentu aman dan bisa jadi berbahaya untuk proses tumbuh kembang sang anak,” jelasnya.

Munculnya ASI Pengganti

Dilansir dari laman republika, bahwa beberapa pusat penelitian telah banyak mengadakan eksperimen untuk membuat ASI tiruan. Hasilnya, seperti yang kita dapatkan sekarang ini, banyaknya susu buatan yang dijual di pasaran, baik untuk konsumsi bayi, anak-anak maupun orang dewasa.

Hasil dari penelitan itu menyatakan bahwa susu buatan tidak aman dan memiliki kemungkinan untuk mengandung bahan-bahan yang dapat mengakibatkan kerusakan sel tubuh. Oleh karena itu, beberapa pusat penelitian menyeru dan mengkampanyekan slogan back to basic. Mereka mengajurkan para ibu untuk memberikan susu murni (ASI) kepada anak mereka dengan menyusuinya langsung.

Tulisan yang disadur dari ‘ensiklopedi petunjuk sains dalam alquran dan sunnah’ itu menjelaskan bahwa ASI murni dapat menyelamatkan bayi mereka, sekaligus menyelamatkan generasi yang akan datang dari cacat tubuh yang diakibatkan oleh komsumi susu buatan, atau kurangnya bayi dalam mengkomsumsi susu murni (ASI). (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here