Mukisi.com-Bencana di Palu sampai saat ini masih menyisakan pilu. Gempa berkekuatan akbar tetiba saja meluluhlantakkan. Korban terus berjatuhan. Berbagai bantuan terus berdatangan untuk meringankan korban. Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) pun turut ambil peran.

Sebagai organisasi yang mengupayakan kesehatan Islam di masyarakat, Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) tak luput memperhatikan human relief. Jumat (5/10) kemarin, tim Mukisi bertandang ke Palu untuk berperan aktif membantu penanggulangan gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR) itu.

Sejak terdengar musibah dan gempa bumi di Palu, memang seluruh elemen masyarakat berbondong-bondong berempati kepada para korban. Diakui oleh Dr. dr. Sagiran, Sp.B., M.Kes, Ketua Mukisi Yogyakarta, bahwa ia bergegas ke Palu usai melakukan survey istiqomah di RSI Sultan Agung Semarang Jumat lalu (5/10).

“Siang harinya saya bertolak ke Palu bersama rombongan dari RS Nur Hidayah, RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dan RS PDHI Yogyakarta sebagai anggota Mukisi di Jogjakarta,” paparnya.

Menurut pemaparannya, fokus agenda kemanusiaan yang dilakukan Mukisi kali ini adalah membantu assessment problematika lokal yang diakibatkan gempa. Assessment penting dilakukan untuk menyusun program-program berikutnya secara tepat.

“Karakteristik masyarakat yang ada di Palu dan daerah terdampak memang berbeda dengan daerah lain. Ini yang harus kita pelajari. Kondisi geografis akibat bencana ini juga ternyata tidak mudah diatasi. Oleh sebab itu perlu dipetakan lebih dahulu permasalahan yang ada, baru kemudian ditentukan program-programnya,” tandasnya.

Dalam kegiatan ini, Mukisi bergabung dengan berbagai organisasi yang sudah malang-melintang di dunia tanggap bencana. Di antara dari mereka adalah MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center), BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia), dan beberapa yayasan lokal. Tak hanya itu, RS daerah dan RS Swasta pun turut bersinergi mengatasi penanganan korban bencana alam ini. Hal yang tak kalah penting, peran pemerintah setempat sangat bekerja secara kooperatif.

Mukisi Rencanakan Tindakan Lanjutan Usai Misi Perdana

Menurut perkiraan beberapa lembaga terkait, pemulihan akibat bencana ini membutuhkan sekurang-kurangnya enam bulan. “Untuk itulah, kemarin saya pamit kepada Pengurus Pusat (PP) Mukisi, dan Ketua Umum memberi amanat agar kami melakukan assessment dengan baik. Karena Mukisi akan mengagendakan program lanjutan sebagai bentuk follow up dari misi perdana kali ini,” jelasnya.

“Untuk itu, kami persilakan pengurus pusat mukisi merespon hal ini. Sekiranya apa yang bisa dilakukan setelah misi perdana ini,” imbuhnya.

Temuan Mukisi Ikhwal Kesehatan Para Korban

Dalam misi perdana ini, Dokter Sagiran beserta tim langsung menyisir ke camp-camp pengungsian. Hasilnya, ternyata masyarakat di lokasi belum cukup terdidik dan terpelajar ikhwal perilaku kesehatan.

“Perilaku buruk dalam bidang kesehatan masih terlihat, kehigienisan masyarakat juga masih memprihatinkan. Kasus-kasus luka dan patah tulang masih ditangani secara adat tradisional dengan ramuan-ramuan yang jauh dari kaidah medis,” tandas dokter bedah RS Nur Hidayah Bantul ini.

“Sekali lagi, secara sterilitas dan perilaku higienis masih sangat memprihatinkan,” tegasnya.

Bahkan di antara mereka lebih percaya pada dukun. Hal ini dikarenakan beberapa tempat di sana terisolir dan tidak pernah ada orang dari luar yang masuk. Hal inilah yang kemudian menyebabkan mereka tidak mudah percaya dengan orang luar.

“Kami menjumpai kasus patah tulang yang diatasi dengan cara dibubuk dengan ramuan-ramuan yang kemudian diapit menggunakan bilah bambu dan ditali dengan rafia. Kami berusaha edukasi sedemikan rupa agar mereka mau kami tangani,” paparnya.

Sebagai bentuk ikhtiar, ada beberapa rekan sejawat yang mencoba mengobati dengan gaya pengobat tradisional, seperti  doa dan ruqyah. Tetapi memang cukup sulit untuk membuat mereka terbuka.

“Oleh karena itu perlu ada tim khusus advokasi medis dan kultural agar mereka cepat pulih dan bangkit dari keterpurukan akibat dampak bencana alam ini,” jelas dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Divisi Sertifikasi RS Syariah Mukisi ini.

RS di Palu Tertarik Sertifikasi Syariah

Kedatangan tim Mukisi ke lokasi bencana ternyata menarik perhatian RS setempat. Hal ini dibuktikan dengan ketertarikan mereka terhadap RS Syariah. “Di lapangan, kita bertemu dengan berbagai elemen. Alhamdulillah kami juga bertemu dengan RSI Siti Khadijah Palu, RS Daerah dan RS Swasta di Kendari, dan RS swasta dari berbagai kota yang ternyata sangat ingin pelayanannya disyariahkan,” jelasnya.

Oleh karena itu dalam kesempatan ini, Dokter Sagiran juga memberikan penjelasan mengenai sertifikasi RS sayariah. “RS yang ada di Kendari sangat antusias untuk bergabung menjadi RS Syariah. Maasyaa Allah, ghiroh syariahnya luar biasa bagus,” jelasnya.

Mukisi akan berpulang dari Palu pada 10 Agustus mendatang. Ke depan, Mukisi akan merencanakan tindak lanjut dari misi perdana ini. “Insyaa allah ada agenda berikutnya. Sambil kerja, sambil sosialisasi, sambil konsolidasi dengan berbagai elemen yang ada di Sulawesi Tengah ini,” ujarnya mengakhiri. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here