Mukisi.com-Bagi seorang Muslim, baik buruknya seseorang ditentukan di akhir kematiannya. Karenanya ucapan terakhir sebelum menghembuskan nafas yang terakhir kali menjadi sesuatu yang sangat penting. RS Syariah menjamin setiap pasien yang meninggal sudah dalam kondisi ditalqin, dituntun untuk mengucapkan kalimat thayyibah.

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya “Laa ilaaha illa Allah”, maka ia masuk surga” (HR. Al Hakim).

Inilah yang kemudian disebut talqin. Mentalqin adalah menuntun seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat Laa ilaaha illa Allah. Mentalqin seseorang yang akan meninggal dunia disunnahkan bagi orang yang ada di sisi orang yang akan meninggal dunia, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, “Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’” (HR. Muslim: 916).

Rumah Sakit (RS) Syariah menekankan perhatian penuh terhadap hal ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh dr. H. Masyhudi AM, M.Kes, Ketua Umum Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) bahwa pihak RS Syariah menjamin setiap pasien yang meninggal dunia di dalam RS pasti akan ditalqin. “Dulu kita tidak concern terhadap talqin ini, namun kini menjadi perhatian khusus bagi kami,” paparnya.

RS Syariah, ia melanjutkan, adalah rumah sakit yang berkomitmen untuk menjalankan tuntunan Islam dengan benar, maka setiap RS yang menjadi RS Syariah harus membenahi beberapa hal demi mengupayakan layanan syar’i di dalamnya. Salah satunya kebijakan mentalqin pasien yang meregang nyawa.

Adab Mentalqin

Hal yang pertama harus diperhatikan saat mentalqin adalah hendaknya yang metalqin calon jenazah merupakan orang yang dicintai calon jenazah atau yang dipercaya calon jenazah.

Burhan Ali Setiawan, SHI, MH selaku sekretaris DPS (Dewan Pengawas Syariah), Sekrtaris ketakmiran dan Staf pelaksana di BPI RSI Sultan Agung) mengatakan, “Hendaknya yang mentalqin adalah orang yang dipercaya bisa menuntunnya, hindari orang yang dibenci oleh calon mayit, orang yang ada disekitar calon mayit jangan mengucapkan apapun kecuali kebaikan-kebaikan.”

“Semua perawat di rumah sakit sudah dibekali pemahaman bagaimana menalqin pasien yang akan meninggal, keluarga akan kami diberi penjelasan tentang bagaimana menalqin. Yang jelas, kami akan berupaya dan terus mengawal proses talqin berjalan,” kata Burhan.

Kemudian, mentalqin hendaklah tidak dilakukan secara berulang jika calon jenazah sudah mengucapkan kalimat syahadatnya. Imam al Qurthubiy berkata, “Telah mengatakan Abu Muhammad Abdul al Haq, hal tersebut adalah dikarenakan jika orang yang akan meninggal dunia ditalqin secara berulang-ulang ditakutkan ia merasa terusik dan bosan sehingga setan akan membuatnya berat mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illa Allah‘ dan kemudian akan menjadi sebab jeleknya akhir hayatnya.”

Kita juga wajib menjauhkan situasi kerisauan dan kekacauan dari calon jenazah. Contoh kerisauan tersebut misalnya tangisan istrinya, tangisan anaknya yang menunjukkan kesedihannya dengan kematian suaminya atau ayahnya. Dikhawatirkan keadaan ini akan membuat calon jenazah semakin resah, sehingga ia lebih memikirkan keluarganya dari pada keselamatan akhiratnya. Selain itu, ini akan menghalanginya untuk mengucapkan laa ilaaha illallah.

Kemudian, semua yang ada di sekitar calon jenazah, tidak boleh mengucapkan kalimat apapun selain kebaikan. Karena ucapan mereka diaminkan malaikat.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila kamu menjenguk orang sakit atau mayit maka ucapkanlah kalimat yang baik. Karena para malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” (HR. Ahmad 27367, Muslim 2168, dan yang lainnya)

Kekeliruan Umum dalam Mentalqin

Mentalqin bukanlah menyebut-nyebut kalimat syahadat di depan orang orang akan meninggal dunia dan memperdengarkannya. Akan tetapi dengan memerintahkan dan menuntun seseorang yang akan meninggal dunia agar mengucapkannya.

Dalilnya adalah Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk salah seorang sahabat dari kalangan Anshar lalu mengatakan, “Wahai paman, ucapkanlah: “Laa ilaaha illa Allah.” Beliau bertanya: “Apakah paman dari pihak ibu atau bapak? Jawabnya: “Dari pihak ibu”. Maka ia berkata: “Apakah lebih baik bagi diriku untuk mengucapkan: “Laa ilaaha illa Allah?” . Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Ya”.

Di sisi lain, soal perawatan pasien dalam keadaan sakaratul maut, Ketua Divisi Sertifikasi Syariah, Dr. dr. Sagiran, Sp.B., M.Kes, mengatakan bahwa RS Syariah berupaya memuliakan pasien tak hanya ketika ia menjalani proses penyembuhan, tetapi juga ketika meninggal dan menjadi jenazah. (Din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here