Mukisi.com-Rumah Sakit Islam Sultan Agung  (RSISA) Semarang kali ini mendapat giliran survei istiqomah. Hasilnya mengejutkan. RSISA tak hanya bisa mempertahankan kualitasnya, RS Syariah pertama di Indonesia itu bahkan banyak melakukan improvisasi dalam perjalanannya.

Survei Istiqomah yang dilakukan di RSISA pada Jum’at (05/10) lalu itu merupakan survei tahunan yang dilakukan oleh Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (Mukisi) kepada RS yang sudah tersertifikasi Syariah. Survei ini dilakukan untuk terus mengawal sejauh mana penerapan kaidah-kaidah syar’i yang harus dilakukan oleh RS Syariah.

Agenda survei istiqomah kali ini sama seperti sebelumnya, para asesor melakukan wawancara, telusur dokumen, hingga telusur ruangan untuk melihat apakah implementasi nilai syariah di RSISA masih berjalan dengan baik atau sudah menurun.

“Survei ini dilakukan setiap tahun, bertujuan untuk memastikan konsistensi RS dalam implementasi standar,” jelas dr. Burhanuddin Hamid Darmaji, MARS, asesor yang turut serta dalam survey itu.

Dalam survei tersebut, Dokter Burhan merasa pihak-pihak RSISA dalam kondisi yang sangat siap untuk menyambut survei ini.

“Yang paling tampak adalah aktifitas Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan Komite Syariah yang tinggi serta totalitas support dari manajemen rumah sakit,” kata Dokter Burhan.

Selain Dokter Burhan, dr. Tri Ermin Fadlina, M.Kes juga ditunjuk menjadi asesor survei di RSISA. Dalam survei tersebut juga mengajak 16 orang calon asesor yang telah mengikuti pelatihan di Jakarta beberapa waktu lalu. Hal itu dilakukan karena merupakan kelanjutan program pelatihan asesor RS Syariah untuk mendapatkan sertifikat keresmian asesor dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

Pengembangan Bidang IT untuk Pelayanan

Chanif Miftahuddin, dari Divisi Hubungan Masyarakat RSISA mengatakan bahwa RSISA menjaga dengan sangat ketat standar-standar yang sudah ditetapkan dalam RS Syariah sesuai syariat Islam. “Ini kami jaga dan kawal betul, agar tidak ada sedikitpun yang kendor,” ujarnya mantap. Selain itu, ia mengaku bahwa RSISA juga mengembangkan pelayanan berbasis IT (Informasi dan Teknologi) untuk mendukung gerakan paperless dalam rumah sakit.

Pengembangan IT dalam RSISA yang dimaksud beberapa di antaranya adalah SHC (Sharia Hospital Culture) mobile, BPI (Bimbingan dan Pelayanan Islami) mobile, dan E-Imut (Pelaporan Capaian Indikator Mutu Berbasis IT).

Kemudian di akhir agenda, Dokter Burhan mewakili Mukisi menyampaikan rasa bangganya terhadap perkembangan RSISA ini. “Banyak improvement yang dilakukan RSISA dalam satu tahun pasca menerima sertifikat dengan mengembangkan aspek teknologi informasi untuk support proses bisnisnya,” ungkap asesor dari Mukisi tersebut.

Lalu, ia juga menyampaikan harapan untuk RSISA ini, yaitu agar RSISA dapat terus menjadi teladan dalam tumbuh kembang rumah sakit syariah di nusantara dan menjadi motivator terdepan untuk gerakan #2018ada50RSSyariah. (ipw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here